KEGIATAN REMEDIAL DAN PENGAYAAN





                          TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD

 “Kegiatan Remedial Dan Pengayaan “



DISUSUN OLEH :
                 Nama    : Nanda Kurnia Putri
                 Bp       : 1820186
                 Kelas    : PGSD 44


DOSEN PEMBIMBING
Yessi Rifmasari, M. Pd.


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA
PADANG
2020





KEGIATAN REMEDIAL DAN PENGAYAAN
A. Remedial
  1. Pengertian Remedial
        Istilah remedial berasal dari bahasa inggris yaitu  Remediation.  Kata Remediation  berakar dari kata “to remedy”, yang bermakna “menyembuhkan”. Jadi  remidiasi  ditekankan  pada  proses “penyembuhan”. Sementara itu kata remedial  merupakan  kata  sifat, sehingga dalam bahasa inggris selalu dibandingkan  dengan  kata  benda, minsalnya “remedial work”, yang  berarti  pekerjaan  penyembuhan.  Dalam  bahasa indonesia yang baik dan benar, kata remedial  tidak  berdiri  sendiri  tetapi  disandingkan  dengan  kata  kegiatan  atau  pembelajaran,  sehingga  istilah yang  digunakan  adalah  kegiatan  remedial  atau  pembelajaran  remedial.                    Pembelajaran remedial adalah kegiatan yang ditunjukkan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menguasai materi pembelajaran.  Pembelajaran  remedial  merupakan  layanan  pendidikan  yang diberikan kepada sisiwa untuk memperbaiki prestasi belajarnya sehingga mencapai kriteria ketuntasan yang ditetapkan. Pembelajaran remedial adalah pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik yang belum  mencapai  ketuntasan  KD  tertentu,  menggunakan  berbagai  metode yang diakhiri oleh penilaian untuk mengukur kembali tinggat ketuntasan peserta didik.
       Pada hakikatnya semua peserta didik akan dapat mencapai standar konpetensi  yang  ditentukan, hanya waktu  pencapaiannya  yang  berbeda. Oleh karenanya perlu adanya  program  pembelajaran  remedial  (perbaikan). Metode yang digunakan dapat bervariasi sesuai dengan sifat,jenis, latar belakang kesulitan belajar yang dialami peserta didik dan tujuan pembelajarannya pun dirumuskan sesui dengan kesulitan yang dialami peserta didik.  Pada pembelajaran  remedial, media belajar harus betul-betul disiapkan  guru  agar  dapat  mempermudah   peserta didik  dalam  memahami  pelajaran   yang  dirasa  sulit.  Alat evaluasi yang digunaka
dalam  pembelajaran  remedial  pun perlu disesuaikan dengan kesulitan belajar  yang  dialami  peserta didik.
  2. Hakikat Pembelajaran Remedial
      Pembelajaran remedial merupakan layanan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik untuk memperbaiki prestasi belajarnya sehingga mencapai kriteria ketuntasan yang ditetapkan. Untuk memahami konsep penyelenggaraan model pembelajaran remedial, terlebih dahulu perlu diperhatikan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diberlakukan berdasarkan Permendiknas 22, 23, 24 Tahun 2006 dan Permendiknas No. 6 Tahun 2007  menerapkan  sistem  pembelajaran  berbasis kompetensi, sistem belajar tuntas, dan sistem pembelajaran yang memperhatikan  perbedaan individual peserta didik. Sistem dimaksud ditandai dengan dirumuskannya secara jelas standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang  harus dikuasai peserta didik. Penguasaan SK dan KD setiap peserta didik diukur menggunakan sistem penilaian acuan kriteria. Jika seorang peserta didik mencapai standar tertentu maka peserta didik dinyatakan telah mencapai ketuntasan.
       Pelaksanaan  pembelajaran  berbasis  kompetensi  dan pembelajaran tuntas, dimulai dari penilaian kemampuan awal peserta didik terhadap kompetensi atau materi yang akan dipelajari. Kemudian dilaksanakan pembelajaran  menggunakan  berbagai  metode  seperti  ceramah, demonstrasi, pembelajaran kolaboratif/kooperatif, inkuiri, diskoveri, dsb. Melengkapi metode pembelajaran digunakan juga berbagai  media seperti media audio, video, dan  audiovisual  dalam  berbagai format, mulai dari kaset audio, slide, video, komputer, multimedia, dsb.  Di tengah  pelaksanaan pembelajaran atau pada saat kegiatan  pembelajaran  sedang  berlangsung, diadakan penilaian proses menggunakan berbagai teknik dan instrumen dengan tujuan untuk mengetahui kemajuan belajar serta seberapa jauh penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah atau sedang dipelajari.  Pada akhir  program  pembelajaran,  dia dakan penilaian yang lebih formal berupa ulangan harian. Ulangan harian dimaksudkan untuk menentukan  tingkat  pencapaian  belajar peserta didik, apakah seorang peserta didik gagal atau  berhasil mencapai tingkat  penguasaan  tertentu  yang  telah  dirumuskan  pada  saat  pembelajaran  direncanakan.
   Apabila  dijumpai  adanya  peserta didik  yang tidak mencapai penguasaan  kompetensi  yang  telah  ditentukan,  maka  muncul permasalahan   mengenai  apa  yang  harus  dilakukan  oleh  pendidik.  Salah satu tindakan yang diperlukan adalah pemberian program pembelajaran remedial  atau  perbaikan.  Dengan  kata lain, remedial diperlukan bagi peserta didik yang  belum  mencapai  kemampuan  minimal  yang  ditetapkan dalam  rencana  pelaksanaan  pembelajaran. Pemberian program pembelajaran  remedial  didasarkan  atas  latar  belakang  bahwa  pendidik perlu  memperhatikan  perbedaan  individual  peserta didik. Dengan diberikannya  pembelajaran  remedial bagi peserta didik yang belum mencapai tingkat ketuntasan belajar, maka peserta didik ini memerlukan waktu  lebih  lama  dari pada mereka yang telah mencapai tingkat penguasaan. Mereka juga perlu menempuh penilaian kembali setelah mendapatkan  program  pembelajaran  remedial.
  3. Pentingnya Pembelajaran Remedial
     Setiap guru berharap peserta didiknya dapat mencapai penguasaan kompetensi  yang  telah ditentukan. Berdasarkan permendik bud No.65 tentang Standar Proses,No.66 thn 2013 tentang standar penilaian, setiap pendidik  hendaknya  memperhatikan prinsip perbedaan individu (kemampuan  awal,  kecerdasan,  kepribadian,  bakat,  potensi, minat, motivasi belajar, gaya belajar), maka program pembelajaran remedial dilakukan untuk memenuhi kebutuhan/hak anak. Dalam program pembelajaran  remedial  guru  akan membantu peserta didik, untuk memahami kesulitan belajar yang dihadapinya, mengatasi kesulitannya tersebut dengan memperbaiki cara belajar dan sikap belajar yang dapat mendorong  tercapainya hasil  belajar  yang  optimal.
  4. Tujuan Pembelajaran Remedial
     Tujuan guru melaksanakan  kegiatan  remedial  adalah  membantu  siswa yang  mengalami  kesulitan  menguasai  kompetensi  yang telah ditentukan agar  mencapai  hasil  belajar  yang  lebih baik.  Secara umum tujuan kegiatan remedial  adalah sama dengan pembelajaran pada umumnya yakni memperbaiki  miskonsepsi  siswa sehingga siswa dapat mencapai kompetensi yang telah ditetapkan berdasarkan kurikulum yang berlaku. Secara khusus kegiatan  remedial  bertujuan  membantu  siswa yang  belum  tuntas  menguasai kompetensi yang ditetapkan melalui kegiatan pembelajaran tambahan.  Melalui  kegiatan remedial, siswa dibantu untuk mengatasi kesulitan  belajar  yang  dihadapinya. 
 5. Fungsi Pembelajaran Remedial
    Dalam  kaitannya  dengan  proses  pembelajaran, fungsi  kegiatan  remedial adalah sebagai berikut:
   a. Memperbaiki cara belajar siswa dan cara mengajar guru (Fungsi Korektif). Fungsi korektif ini dilaksanakan  guru  berdasarkan hasil kesulitan belajar siswa yang diketemukan. Bertolak dari hasil analisis tersebut, guru memperbaiki berbagai aspek kesulitan proses pembelajaran, mulai dari rumusan  indikator  hasil  belajar,  materi ajar,  pengalaman belajar, penilaian dan evaluasi, serta tindak lanjut pembelajaran. Rumusan kompetensi dan indikator  hasil  belajar  untuk  remedial  dibuat  berdasarkan kesulitan belajar yang dialami siswa. Selanjutnya guru mengorganisasi dan mengembangkan materi pembelajaran sesuai dengan taraf  kemampuan  siswa,  memilih dan  menerapkan alat dan berbagai media  serta  sumber  belajar  untuk  memudahkan  siswa belajar,  memilih dan  menetapkan  pengalaman  belajar  yang  sesuai.
  b. Meningkatkan pemahaman guru dan siswa terhadap kelebihan dan kekurangan dirinya (Fungsi Pemahaman) Kegiatan remedial memberikan pemahaman  lebih  baik  kepada siswa maupun guru. Bagi seorang guru yang  akan  melaksanakan  kegiatan  remedial terlebih dulu harus memahami kelebihan dan kelemahan kegiatan pembelajaran yang dilakukannya.  Untuk  kepentingan itu maka guru terlebih dulu mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakannya. Dari evaluasi tersebut akan diketahui apakah strategi dan  pembalajarannya  sudah tepat, apakah pengalaman belajar  yang  dipilih sudah  sudah  sesuai  dengan  tingkat  perkembangan  siswa, apakah  media dan alat yang digunakan sudah  membantu  mempermudah  pemahaman siswa. Dari hasil evaluasi  inilah guru memperbaiki  proses pembelajarannya. Pemahaman  yang  diharapkan  terbentuk  pada diri siswa dari  kegiatan  remedial  adalah  siswa  memahami  kelebihan dan kelemahan cara belajarnya. Apakah selama pembelajaran siswa sudah berperan aktif apa belum, Apakah sudah mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh apa belum, Nah dari pemahaman akan kelemahan dan kelebihan dirinya ini siswa akan dengan kesadaran sendiri memperbaiki sikap  dan  cara  belajarnya  sehingga  dapat  mencapai  hasil  belajar  yang lebih baik.
  C. Menyesuaikan Pembelajaran dengan Karakteristik Siswa (Fungsi Penyesuaian) Fungsi penyesuaian dalam kegiatan remedial adalah penyesuaian guru terhadap karakteritik siswa. Untuk menentukan hasil belajar siswa dan materi  pembelajaran disesuaikan dengan kesulitan yang dihadapi siswa. Kegiatan pembelajaran guru harus menerapkan kekuatan yang dimiliki individu siswa melalui penggunaan berbagai metode dan alat/media pembelajaran.
  d. Mempercepat Penguasaan Siswa terhadap Materi Pelajaran (Fungsi Akselerasi) Kegiatan remedial mempunyai fungsi akselerasi terhadap pembelajaran karena siswa dapat dipercepat penguasaan terhadap materi pelajaran  melalui  penambahan  waktu  dan  frekuensi  pembelajaran. Tanpa penambahan frekuensi pembelajaran maka siswa akan semakin tertinggal jauh  dari  teman-temannya yang telah menguasai materi pelajaran.
   f. Memperkaya Pemahaman Siswa tentang Materi Pembelajaran (Fungsi Pengayaan) Fungsi pengayaan menurut Mulyadi dimaksudkan agar pembelajaran  remedial  dapat  memperkaya  proses belajar mengajar. Bahan pelajaran yang tidak dismpaikan dalam pelajaran reguler dapat diperoleh melalui pembelajaran remedial. Pengayaan lain adalah dalam segimetode dan alat yang  dipergunakan dalam pembelajaran remedial.
Pendapat  Mulya di diatas  sependapat dengan pendapat Abu Alumardi dan Widodo Supriyono bahwa maksud pembelajaran remedial itu dapat  Memperkaya  proses belajar  mengajar. Pengayaan dapat melalui atau terletak  dalam  pengajaran perbaikan, sehingga hasil yang diperoleh  lebih banyak, lebih dalam atau dengan singkat prestasi  belajarnya lebih kaya.
   g. Membantu Mengatasi Kesulitan Siswa dalam Aspek Sosial-Pribadi (Fungsi Terapeutik). Fungsi teurapeutik ditunjukkan dengan kegiatan membatu siswa yang mengalami kesulitan dalam aspek sosial dan pribadi. Perlu diketahui bahwa siswa yang merasa kurang berhasil dalam belajar sering merasa rendah diri atau terisolasi dalam pergaulan dari teman-temannya. Guru yang membantu siswa mencapai prestasi belajar yang lebih baik melalui  kegiatan  remedial berarti guru telah membantu siswa meningkatkan rasa percaya dirinya. Tumbuhnya rasa percaya diri ini membuat siswa menjadi tidak merasa rendah diri lagi dan dapat bergaul dengan teman-temannya.
 6. Prinsip Pembelajaran Remedial
     Pembelajaran  remedial  merupakan  pemberian  perlakuan khusus terhadap siswa yang mengalami hambatan dalam kegiatan belajarnya. Hambatan  yang  terjadi dapat berupa kurangnya pengetahuan dan keterampilan  prasyarat  atau  lambat  dalam   mecapai  kompetensi.  Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran  remedial  sesuai  dengan sifatnya sebagai  pelayanan  khusus  adalah  sebagai  berikut:
  a. Adaptif
     Setiap siswa memiliki keunikan sendiri-sendiri. Oleh karena itu, program pembelajaran remedial hendaknya memungkinkan siswa untuk belajar sesuai dengan kecepatan, kesempatan, dan gaya  belajar  masing-masing. Dengan  kata  lain,  pembelajaran remedial harus mengakomodasi perbedaan  individual  siswa.
  b. Interaktif
     Pembelajaran remedial hendaknya memungkinkan siswa untuk secara intensif berinteraksi dengan guru dan sumber belajar yang tersedia. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa kegiatan belajar siswa yang bersifat perbaikan perlu selalu mendapatkan monitoring dan pengawasan agar diketahui  kemajuan  belajarnya.  Jika dijumpai ada siswa yang mengalami kesulitan maka guru harus segera memberikan bantuan.
 c. Fleksibilitas dalam Metode Pembelajaran dan Penilaian. Sejalan dengan sifat keunikan dan kesulitan belajar siswa yang berbeda-beda, maka  dalam  pembelajaran remedial perlu digunakan berbagai metode mengajar dan metode penilaian yang sesuai dengan karakteristik siswa.
  d. Pemberian Umpan Balik
Umpan balik berupa informasi yang diberikan kepada siswa mengenai kemajuan  belajarnya  perlu  diberikan sesegera mungkin. Umpan balik dapat bersifat korektif maupun konfirmatif. Dengan sesegera mungkin memberikan  umpan  balik  dapat  dihindari kekeliruan belajar yang berlarut-larut  yang  dialami  siswa.
  e. Kesinambungan dan Ketersediaan dalam Pemberian Pelayana. Program  pembelajaran  reguler  dengan pembelajaran remedial merupakan  satu  kesatuan,  dengan  demikian program pembelajaran reguler dengan  remedial harus berkesinambungan dan programnya selalu tersedia agar setiap saat siswa dapat mengaksesnya sesuai dengan kesempatan masing-masing.
 7. Bentuk  Kegiatan Remedial
     Kegiatan remedial dilaksanakan guru untuk membantu siswa mencapai kriteria  ketuntasan  minimal  yang harus dicapai siswa. Dengan memperhatikan  pengertian  dan  prinsip pembelajaran remedial, menurut Majid (2008:237)  pembelajaran  remedial  dapat  dilakukan  dengan  berbagai bentuk kegiatan antara lain:
  a. Memberikan  tambahan  penjelasan  atau  contoh. Siswa kadang-kadang mengalami kesulitan memahami penyampaian materi pembelajaran untuk mencapai kompetensi yang disajikan hanya sekali, apalagi kurang ilustrasi dan contoh. Pemberian tambahan ilustrasi, contoh dan bukan contoh untuk pembelajaran konsep misalnya akan membantu pembentukan konsep pada diri siswa. Menggunakan strategi pembelajaran yang berbeda dengan sebelumnya penggunaan alternatif berbagai  strategi  pembelajaran  akan memungkinkan siswa dapat mengatasi  masalah  pembelajaran  yang  dihadapi.
  b. Mengkaji  ulang  pembelajaran  yang  lalu.
Penerapan prinsip pengulangan  dalam pembelajaran akan membantu siswa menangkap  pesan pembelajaran. Pengulangan dapat dilakukan dengan  menggunakan  metode dan media yang  sama atau metode dan media yang berbeda. Guru  melakukan  pembelajaran  kembali  kompetensi yang belum dikuasai oleh siswa. Pembelajaran hanya difokuskan pada kesulitan yang dialami oleh siswa. Jika siswa kurang dalam hal mengaplikasi  konsep  maka hendaknya guru banyak memberi contoh latihan  penerapan  konsep dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran ulang  dapat  disampaikan  dengan  cara  penyederhanaan  materi, variasi cara penyajian, penyederhanaan tes/pertanyaan. Pembelajaran ulang dilakukan bilamana sebagian besar atau semua peserta didik belum mencapai ketuntasan belajar atau mengalami kesulitan belajar. Guru perlu memberikan  penjelasan  kembali  dengan  menggunakan metode dan/atau media yang lebih tepat.
  c. Menggunakan berbagai jenis media
Penggunaan berbagai jenis media dapat menarik perhatian siswa. Perhatian  memegang  peranan penting dalam proses pembelajaran. Semakin memperhatikan, hasil belajar akan lebih baik. Namun siswa seringkali mengalami kesulitan untuk memperhatikan atau berkonsentrasi dalam waktu yang lama. Agar perhatian siswa terkonsentrasi pada materi pelajaran  perlu  digunakan  berbagai  media  untuk mengendalikan perhatian siswa.
  d. Melakukan Aktivitas Fisik (misal demonstrasi, atau praktik) Melakukan aktivitas fisik dalam kegiatan remedial, misal untuk memahami konsep IPA bahwa gaya dapat mengubah bentuk benda, dan besar  kecilnya  gaya mempengaruhi besar kecilnya perubahan bentuk benda. Terkait dengan hal itu sebaiknya guru memberi kesempatan yang lebih  banyak dan dengan benda yang bervariasi pada siswa agar siswa dapat  memperoleh  pengalaman  yang  lebih kaya untuk membangun konsep tersebut. Dengan cara ini diharapkan siswa akan lebih mudah memahami  konsep tersebut karena didukung oleh data yang cukup.
Kegiatan Kelompok
  e. Kerja  kelompok dan diskusi dapat digunakan guru  untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Yang harus diperhatikan guru dalam menentukan kelompok agar kerja kelompok itu efektif adalah diantara  anggota kelompok itu harus benar-benar ada siswa yang menguasai  materi tersebut sehingga mampu memberi penjelasan kepada siswa lainnya.
  f.Tutor Sebaya
Tutor  sebaya adalah  teman sekelas yang memiliki kecepatan belajar lebih. Mereka perlu dimanfaatkan untuk memberikan tutorial kepada rekannya yang  mengalami   kelambatan  belajar. Salah  seorang  siswa yang lebih  pandai dari kelas yang sama atau dari kelas yang lebih  tinggi  inilah yang dijadikan tutornya. Dengan teman sebaya diharapkan peserta didik yang  mengalami  kesulitan  belajar  akan  lebih  terbuka  dan  akrab.
  g. Menggunakan Sumber Belajar Lain
Siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat dibantu dengan teknik memberikan kesempatan untuk mengunjungi ahli atau praktisi yang berkaitan dengan materi yang dibahas.  Para  ahli atau praktisi ini merupakan  sumber  belajar. Misal untuk mengatasi kesulitan belajar tentang bagaimana berternak ayam  petelur/pedaging, siswa tersebut bisa mengunjungi salah seorang peternak ayam terdekat untuk diminta bantuannya  memberikan  penjelasan  yang  lebih  gamblang.
 8. Strategi dan Teknik Remedial
Untuk  menentukan  strategi  dan teknik pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran remedial, terlebih dahulu harus diperhatikan tentang faktor-faktor  yang  terdapat  dalam  pembelajaran  remedial  itu sendiri. Faktor-faktor itu antara lain yang pokok menurut Nana Sukmadinata dan Thomas :
  a. Sifat perbaikan itu sendiri
  b. Jumlah siswayang memerlukan kegiatan perbaikan
  c. Tempat bantuan yang berupa kegiatan perbaikan itu diberikan
  d. Waktu penyelenggarakan kegiatan perbaikan
  e. Siapa yang menyelenggarakan kegiatan perbaikan
  f. Metode yang dipakai dalam memberikan perbaikan
 g. Sarana atau alat yang sesuai bagi kegiatan perbaikan itu
 h. Tingkat kesulitan siswa
     
     Berdasarkan faktor yang  terdapat dalam kegiatan remedial diatas, maka dapat dipilih dan ditentukan strategi dan teknik pembelajaran remedial. Strategi dan teknik pembelajaran remedial tersebut seperti di rumuskan Izhar Hasis yang di simpulkan dari Ross dan Santley dari Dinkmayer and Caidweel dalam bukunya Development Counseling, adalah:
 a. Strategi dan Teknik Pendekatan bersifat Kuratif. Pendekatan  pengajaran remedial dikatakan bersifat kuratif kalau dilakukan setelah selesainya proses belajar mengajar utama diselenggarakan. Diadakannyan kegiatan ini didasarkan atas kenyataan empirik  bahwa  seseorang atau sejumlah orang atau mungkin sebagian besar  atau  seluruh  anggota  kelas  atau  kelompok belajara dapat dipandang tidak mampu menyelesaikan proses belajar mengajar yang bersangkutan secara sempurna sesuai dengan kriteria keberhasialan yang ditetapkan. Teknik pendekatan yang dipakai dalam hal ini adalah: 
   1) Pengulangan (repatation)
 Pelaksanaannya dapat dilakukan pada tiap akhir jam pelajaran, tiap akhir unit (satuan) pelajaran tertentu, maupun setiap akhir pokok pembahasan. Sasaran dapat diberikan kepada perorangan (individual maupun kelompok), tergantung kepada kebutuhan. Sedangkan waktu penyampaiannya dapat diberikan  sesudah  pelajaran  selesai maupun diluar jam pelajaran. Misalnya pada sore hari. Sering  kita lihat ada guru yang  memberikan  pelajaran  tambahan/ulangan  pada waktu sore hari pada murid tertentu. Cara lain yang dapat diberikan melalui “kelas remedial” yaitu khusus bagi siswa yang memerlukan bantuan tersendiri lantaran rendah prestasi. Siswa lainnya melakukan belajar seperti biasa.
   2) Pengayaan (enrichment) dan Pengukuhan (reinforcement). Kalau layanan pengulangan ditujukan pada siswa yang mempunyai kelemahan sangat mendasar, maka layanan pengayaan dan pengukuhan ditujukan pada siswa yang mempunyai kelemahan ringan. Teknik pelaksanaannya dapat dengan memberikan tugas atau soal pekerjaan rumah.
  3) Percepatan (acceleration)
Percepatan  diberikan  kepada kasus berbakat tetapi menunjukkan kesulitan psikososial atau ego emosional. Ada dua kemungkinan pelaksanaan, yaitu:
  a) Promosi penuh status aka demiknya  ke tingkat  yang lebih tinggi sebatas  kemungkinan, kalau  memang  yang  bersangkutan  menunjukkan keunggulan yang menyeluruh.  
  b) Maju berkelanjutan jika kasus menonjol pada beberapa bidang tertentu. Pada siswa kasus dapat diberikan layanan dengan bahan pelajaran yang lebih tinggi sebatas kemampuannya.
     Bila ketiga alternatif teknik pendekatan ini memungkinkan untuk di administrasikan  secara efektif,  maka kesulitan yang dialami  siswa baik dalam arti bagi peningkatan prestasi akademinya maupun kemampuan penyesuaian mungkin berangsur-angsur dapat dikurangi.
 9. Metode Pengajaran Remedial
Dalam  memberikan  pengaran  remedi dilakukan dengan beberapa metode, antara lain:
  a. Metode pemberian tugas
Dalam pemberian tugas dapat diberikan kepada kelompok ataupun individual. Tugas yang diberikan sesuai dengan jenis, sifat, dan latar belakang  kesulitan yang dihadapi. Metode ini dapat pula diberikan untuk mengetahui  kasus  yang  sedang  dicari. Keuntungan dari metode ini adalah:
   1) Siswa dapat  memahami  dirinya, baik kelebihan  maupun kekurangannya
  2) Untuk  memperdalam  atau  memperluas  materi  pelajaran
  3) Memperbaiki  cara-cara  belajar  yang  kurang  efesien
 4) Mempercepat kemajuan belajarnya baik  pada  kelompok  maupun individual.
 b. Metode diskusi
Dengan  diskusi  akan  terjadi  interaksi anatar individu untuk memecahkan  masalah,  sehingga  setiap  individuakan  dapat  memberikan buah  pikirannya  untuk  memecahkan  masalah  yang  dilontarkan  oleh guru.  Dalam  pengajaran  remedial metode diskusi dapat dipergunakan untuk memecahkan kesulitan yang sama dalam suatu kelompok, untuk mencri pemecahannya.
 10. Langkah-langkah Kegiatan Remedial
     Kegiatan remedial dapat dilaksanakan sebelum kegiatan pembelajaran biasa untuk membantu siswa yang diduga akan mengalami kesulitan (preventif),  setelah  kegiatan  pembelajaran  biasa untuk  membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar (kuratif), atau selama berlangsungnya kegiatan  pembelajaran  biasa (pengembangan).  Dalam melaksanakan kegiatan  remedial guru dapat menerapkan berbagai metode dan media sesuai dengan kesulitan yang dihadapi dan tingkat kemampuan siswa serta menekankan pada segi kekuatan yang dimiliki siswa.
      Langkah-langkah  yang  harus  ditempuh  dalam  kegiatan  remedial adalah  analisis  hasil diagnosis kesulitan  belajar, menemukan penyebab kesulitan,  menyusun  rencana kegiatan remedial, melaksanakan kegiatan remedial, dan menilai  kegiatan  remedial.  Pelaksanaan  remediasi sebaiknya mengikuti  langkah-langkah  sebagai berikut:
  a. Analisis  Hasil  Diagnosis
Diagnosis kesulitan belajar adalah proses pemeriksaan terhadap siswa yang diduga  mengalami kesulitan dalam belajar. Dari kegiatan tersebut guru akan mengetahui para siswa yang perlu mendapatkan layanan remediasi.
  1) Tujuan
Diagnosis kesulitan belajar dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kesulitan  belajar  peserta  didik. Kesulitan belajar dapat dibedakan menjadi  kesulitan  ringan, sedang, dan berat.
    a) Kesulitan belajar ringan biasanya dijumpai pada peserta didik yang kurang perhatian di saat mengikuti pembelajaran.
    b)  Kesulitan belajar sedang dijumpai pada peserta didik yang mengalami gangguan  belajar yang berasal dari luar diri peserta didi, misalnya faktor keluarga, lingkungan  tempat tinggal, pergaulan, dsb.
    c) Kesulitan belajar berat dijumpai pada pesrta didik yang mengalami ketunaan pada diri mereka, misalnya tuna rungu, tuna netra, tuna daksa, dsb.
  2) Teknik
Teknik  yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kemampuan berlebih peserta didik dapat dilakukan antara lain melalui : tes IQ, tes inventori, wawancara, pengamatan, dsb.
    a) Tes prasyarat adalah tes yang digunakan untuk mengetahui apakah prasyarat yang diperlukan untuk mencapai penguasaan kompetensi tertentu terpenuhi atau belum.  Prasyarat  ini  meliputi prasyarat pengetahuan dan prasyarat keterampilan.
    b) Tes diagnostik digunakan untuk mengetahui kesulitan peserta didik dalam menguasai kompetensi tertentu. Misalnya dalam mempelajari operasi bilangan, apakah peserta didik mengalami kesulitan pada kompetensi penambahan, pengurangan, pembagian, atau perkalian.
   c) Wanwancara dilakukan dengan mengadakan interaksi lisan dengan peserta didik untuk menggali lebih dalam mengenai program pengayaan yang diminati peserta didik.
    d) Pengamatan (observasi). Pengamatan dilakukan dengan jalan melihat secara  cermat  perilaku belajar peserta didik.  Dari pengamatan tersebut diharapkan dapat diketahui jenis maupun tingkat pengayaan yang perlu diprogramkan untuk peserta didik.
     Terkait  dengan kepentingan remedisi ini maka yang menjadi fokus perhatian adalah tingkat ketercapaian kriteria keberhasilan yang dicapai oleh siswa yang mengalami  kesulitan belajar.  Jika kriteria tingkat ketercapaiannya 80%, maka siswa yang belum mencapai kriteria tersebut perlu mendapatkan pembelajaran  remedial.  Informasi  selanjutnya  yang  perlu  diketahui guru adalah  materi  apa  yang  siswa  merasakan  kesulitan  secara individual.
  b. Menemukan Penyebab Kesulitan
Penyebab kesulitan belajar siswa harus diidentifikasi  lebih dulu  sebelum guru  merancang  remediasi,  karena  gejala  yang  sama  sangat dimungkinkan bagi  siswa  yang  berbeda  jenis  penyebab  kesulitannya  berbeda  pula.
  c.  Menyusun Rencana Kegiatan Remedial
Rencana kegiatan remedial dapat disusun setelah guru mengetahui (i) siswa-siswa yang perlu diremediasi, (ii) penyebab kesulitan belajar, (iii) topik-topik yang belum dikuasai. Selanjutnya guru menyusun rencana pembelajaran seperti  pembelajaran  pada umumya. Perencanaan tersebut meliputi  hal-hal:
   1)  Merumuskan  indikator  hasil  belajar
   2)  Menentukan  materi  yang  sesuai  dengan  indikator  hasil  belajar
  3)  Memilih  strategi  dan  metode  yang  sesuai  dengan  karakteristik  siswa
  4)  Merencanakan  waktu  yang  diperlukan
  5)   Menentkan  jenis,  prosedur,  dan  alat  penilaian.
 d.  Melakukan  Kegiatan  Remedial
Melaksanakan kegiatan remedial sesuai rencana yang telah disusun. Sebaiknya remediasi  dilaksanakan sesegera mungkin. Semakin cepat dilaksanakan  semakin baik, karena siswa selain cepat terbantu mengatasi kesulitan  belajarnya,  sehingga  semakin  besar kemungkinan siswa berhasil dalam  belajarnya.
 e. Menilai  Kegiatan  Remedial
Untuk  mengetahui  berhasil  atau  tidaknya remediasi yang telah dilakukan perlu dilakukan penilaian. Jika penilaian menunjukkan kemajuan belajar siswa sesuai dengan yang diharapkan, berarti kegiatan remedial yang direncanakan dan dilaksanakan cukup efektif membantu siswa mengatasi kesulitan belajarnya. Namun jika belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan  berarti  kegiatan remedial yang direncanakan dan dilaksanakan kurang  efektif. Untuk itu guru harus menganalisis setiap komponen pembelajaran.
 11. Bentuk  Pelaksanaan  Pembelajaran  Remedial
Setelah diketahui kesulitan belajar yang dihadapi peserta didik, langkah berikutnya adalah memberikan perlakuan berupa pembelajaran remedial. Bentuk-bentuk  pelaksanaan  pembelajaran  remedial  antara  lain:
  a. Pemberian pembelajaran ulang dengan metode dan media yang berbeda.              Pembelajaran ulang dapat disampaikan dengan cara penyederhanaan  materi, variasi cara penyajian, penyederhanaan tes/pertanyaan. Pembelajaran ulang dilakukan bilamana sebagian besar atau semua peserta didik belum mencapai ketuntasan  belajar  atau   mengalami kesulitan belajar. Pendidik perlu memberikan  penjelasan  kembali   dengan  menggunakan  metode  dan/atau media  yang  lebih  tepat.
  b. Pemberian bimbingan secara khusus, misalnya bimbingan perorangan.  Dalam  hal  pembelajaran  klasikal  peserta didik mengalami kesulitan, perlu dipilih alternatif tindak lanjut berupa pemberian bimbingan secara individual. Pemberian  bimbingan  perorangan  merupakan  implikasi  peran  pendidik sebagai  tutorial.  Sistem tutorial dilaksanakan bilamana terdapat satu atau beberapa peserta didik yang belum berhasil mencapai ketuntasan.
   c.  Pemberian  tugas-tugas  latihan  secara  khusus.  Dalam rangka menerapkan prinsip pengulangan, tugas-tugas latihan perlu diperbanyak  agar  peserta didik tidak  mengalami  kesulitan dalam mengerjakan tes akhir. Peserta didik perlu diberi latihan intensif (drill) untuk membantu menguasai  kompetensi  yang  ditetapkan.
  d.  Pemanfaatan  tutor  sebaya.
 Tutor sebaya adalah teman  sekelas  yang  memiliki  kecepatan  belajar lebih.  Mereka  perlu  dimanfaatkan  untuk  memberikan  tutorial  kepada rekannya  yang  mengalami  kelambatan belajar. Dengan teman sebaya diharapkan  peserta  didik  yang  mengalami   kesulitan  belajar  akan  lebih terbuka  dan  akrab.
12.  Waktu  Pelaksanaan  Pembelajaran  Remedial
    Pembelajaran  remedial dilakukan ketika peserta didik teridentifikasi oleh guru mengalami kesulitan terhadap penguasaan materi pada KD tertentu yang sedang berlangsung. Guru dapat (segera) melakukan perbaikan pembelajaran (remedial) sesuai  dengan kesulitan peserta didik tersebut, tanpa mengganggu hasil tes (ulangan harian).  Program  pembelajaran  remedial  dilaksanakan  di luar jam pelajaran efektif atau ketika proses pembelajaran berlangsung (bila memungkinkan).
     Program pembelajaran remedial dilaksanakan sampai peserta didik menguasai  kompetensi  dasar  yang  diharapkan  (tujuan tercapai).  Ketika  peserta didik telah mencapai kompetensi minimalnya (setelah program pembelajaran remedial dilakukan), maka pembelajaran remedial tidak perlu dilanjutkan.
 13.  Perbedaan  Pembelajaran  Biasa  dengan  Pembelajaran  Remedial. Pembelajaran  remedial memiliki titik perbedaan jika dibandingkan dengan pembelajaran biasa ditinjau dari sudut peserta, tujuan, metode, pelaksanaan, alat,  pendekatan, dan evaluasi (Sutikni, 2008: 167-168). Bagan di bawah  ini  menunjukkan  perbedaan  tersebut.
 14.  Tes  Ulang
    Tes ulang diberikan kepada peserta didik yang telah  mengikuti  program pembelajaran  remedial  agar  dapat  diketahui apakah peserta didik telah mencapai  ketuntasan  dalam  penguasaan  kompetensi  yang  telah  di tentukan.
 15.  Penilaian  Pengajaran  Remedial
    Untuk mengetahui berhasil tidaknya kegiatan remedial yang telah dilaksanakan, harus dilakukan penilaian. Penilaian ini dapat dilakukan dengan cara mengkaji kemajuan belajar siswa. Apabila sisiwa mengalami kemauan belajar sesuai yang diharapkan, berarti  kegiatan  remedial  yang  direncanakan dan  dilaksanakan  cukup  efektif  membantu  siswa  mengalami  kemajuan  dalam belajarnya  berarti  kegiatan  remedial  yang direncanakan dan dilaksanakan kurang  efektif.  Untuk  itu  guru harus menganalisis setiap komponen pembelaran.
   Evaluasi dan  Follow Up, cara manapu  yang ditempuh, evaluasi atas usaha  pemecahan  masalah seseorang  yang  dilakukan evaluasi  dan tindak lanjut, untuk   melihat seberapa pengaruh bantuan (treatment) yang telah diberikan  terhadap  terhadap  pemecahan  masalah  yang  dihadapi  peserta  didik. Kriteria-kriteria  keberhasilan  pengajaran  remedial  yaitu:
   a. Berkembangnya  pemahaman  baru  yang  diperoleh  peserta  didik  berkaitan  dengan  masalah  yang  dibahas.
   b. Perasaan  posistif  sebagai  dampak  dari  proses  dan  materi yang dibawakan  melaui  layanan.
   c. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan  remedial  dalam  rangka  mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan  masalah  belajar  yang  dialaminya.
Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmum (2003) mengemukakan  beberapa  kriteria  dari  keberhasilan  dan  efektifitas  remedial yang  telah  diberikan,  yaitu  apabiala:
    a. Peserta didik  telah  menyadari (to be aware or) atas  adanya  masalah  yang dihadapi
    b. Peserta  didik  telah  memahami  (self insight)  permasalahan  yang  dihadapi
    c.  Peserta didik telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan  diri  dan  masalahnya  secara  obyektif (self acceptance).
    d. Peserta  didik  telah  menurun  ketegangan emosinya (amotion stress release)
    e. Peserta  didik  telah  menurun  penentangan  terhadap lingkungannya

B.  Pengayaan
 1. Pengertian  Pembelajaran  Pengayaan
     Secara umum pengayaan dapat diartikan sebagai pengalaman atau kegiatan  peserta  didik  yang  melampaui  persyaratan  minimal  yang  ditentukan oleh kurikulum dan tidak semua peserta didik dapat melakukannya. Program pengayaan  dapat  diartikan  memberikan  tambahan/perluasan  pengalaman  atau kegiatan  peserta  didik  yang  teridentifikasi  melampaui  ketuntasan  belajar  yang  ditentukan  oleh  kurikulum.
     Kegiatan pengayaan adalah kegiatan yang diberikan kepada siswa kelompok cepat agar mereka dapat mengembangkan potensinya secara optimal dengan memanfaatkan sisa waktu yang dimilikinya. Kegiatan pengayaan dilaksanakan dengan tujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperdalam  penguasaan  materi  pelajaran  yang  berkaitan dengan tugas belajar  yang  sedang  dilaksanakan  sehingga  tercapai  tingkat  perkembangan yang  optimal.
      Pengayaan  pada  kegiatan  pembelajaran  ditunjukkan  oleh  digunakannya sumber belajar, metode pembelajaran, dan alat bantu pembelajaran yang bervariasi dibandingkan pembelajaran biasa. Dengan pemanfaatan komponen-komponen  yang  disesuaikan  dengan  karakteristik  siswa, maka siswa dapat melakukan proses belajar secara efektif. Sebagai contohnya siswa diminta untuk membaca sumber pustaka lain selain buku wajib, mengakses internet, diberi tugas pemecahan masalah yang lebih tinggi pengembangan penalarannya, melakukan penyelidikan sederhana, yang relevan dengan materi yang dipelajari. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh guru tersebut merupakan pengayaan bagi proses pembelajaran. Program pengayaan ini diberikan kepada kelompok siswa yang  sudah mencapai  batas ketuntasan belajar.
      Metode yang digunakan dapat bervariasi sesuai dengan sifat, jenis, dan latar belakang kesulitan belajar yang dialami peserta didik.Dalam program pengayaan, media belajar harus betul-betul disiapkan guru agar dapat memfasilitasi  peserta didik dalam menguasai materi yang diberikan.
 2.   Hakikat  Pembelajaran  Pengayaan
     Secara umum pengayaan dapat diartikan sebagai pengalaman atau kegiatan peserta didik yang melampaui persyaratan minimal yang ditentukan oleh kurikulum dan tidak semua peserta didik dapat melakukannya. Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran tuntas, lazimnya guru mengadakan penilaian awal untuk mengetahui kemampuan peserta didik terhadap kompetensi atau materi yang akan dipelajari sebelum pembelajaran dimulai. Kemudian dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan berbagai strategi seperti ceramah, demonstrasi, pembelajaran kolaboratif/kooperatif, inkuiri, diskoveri, dsb. Melengkapi strategi pembelajaran digunakan juga berbagai media seperti media audio, video, dan audiovisual dalam berbagai format, mulai dari kaset audio, slide, video, komputer multimedia, dsb. Di tengah pelaksanaan pembelajaran atau pada saat kegiatan pembelajaran sedang berlangsung, diadakan penilaian proses dengan menggunakan berbagai teknik dan instrumen dengan tujuan untuk mengetahui kemajuan belajar serta seberapa jauh penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah atau sedang dipelajari. Penilaian proses juga digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran bila dijumpai hambatan-hambatan.
     Pada akhir program pembelajaran, diadakan penilaian yang lebih formal berupa ulangan harian. Ulangan harian dimaksudkan untuk menentukan tingkat pencapaian belajar, apakah seorang peserta didik gagal atau berhasil mencapai tingkat penguasaan kompetensi tertentu. Penilaian akhir program ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan apakah peserta didik telah mencapai kompetensi (tingkat penguasaan) minimal atau ketuntasan belajar seperti yang telah dirumuskan pada saat pembelajaran direncanakan. Jika ada peserta didik yang lebih mudah dan cepat mencapai penguasaan kompetensi minimal yang ditetapkan, maka sekolah perlu memberikan perlakuan khusus berupa program pembelajaran pengayaan. Pembelajaran pengayaan merupakan pembelajaran tambahan dengan tujuan untuk memberikan kesempatan pembelajaran baru bagi peserta didik yang memiliki kelebihan sedemikain rupa sehingga mereka dapat mengoptimalkan perkembangan minat, bakat, dan kecakapannya. Pembelajaran pengayaan berupaya mengembangkan keterampilan berpikir, kreativitas, keterampilan memecahkan masalah, eksperimentasi, inovasi, penemuan, keterampilan seni, keterampilan gerak, dsb. Pembelajaran pengayaan memberikan pelayanan kepada peserta didik yang memiliki kecerdasan lebih dengan tantangan belajar yang lebih tinggi untuk membantu mereka mencapai kapasitas optimal dalam belajarnya.
 3.  Tujuan Pembelajaran Pengayaan
    Kegiatan pengayaan dilaksanakan dengan tujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperdalam penguasaan materi pelajaran yang berkaitan dengan tugas belajar yang sedang dilaksanakan sehingga tercapai tingkat perkembangan yang optimal.
 4.  Jenis Pembelajaran Pengayaan
    Ada tiga jenis pembelajaran pengayaan, yaitu:
      a. Kegiatan eksploratori yang bersifat umum yang dirancang untuk disajikan kepada peserta didik. Sajian dimaksud berupa peristiwa sejarah, buku, tokoh masyarakat, dsb, yang secara regular tidak tercakup dalam kurikulum.
      b. Keterampilan proses yang diperlukan oleh peserta didik agar berhasil dalam melakukan pendalaman dan investigasi terhadap topik yang diminati dalam bentuk pembelajaran mandiri.
      c. Pemecahan masalah yang diberikan kepada peserta didik yang memiliki kemampuan belajar lebih tinggi berupa pemecahan masalah nyata dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah atau pendekatan investigatif/ penelitian ilmiah.  Pemecahan masalah ditandai dengan:
     1)  Identifikasi bidang permasalahan yang akan dikerjakan
      2)   Penentuan fokus masalah/problem yang akan dipecahkan
     3)  Penggunaan berbagai sumber;
     4)  Pengumpulan data menggunakan teknik yang relevan
     5)   Analisis data
    6)   Penyimpulan hasil investigasi
    Sekolah tertentu, khususnya yang memiliki peserta didik lebih cepat belajar dibanding sekolah-sekolah pada umumnya, dapat menaikkan tuntutan kompetensi melebihi standari isi. Misalnya sekolah-sekolah yang menginginkan memiliki keunggulan khusus.
 5.  Prinsip-prinsip Pembelajaran Pengayaan
     Prinsip-prinsip program pengayaan yang perlu diperhatikan dalam mengonsep program pengayaan menurut Khatena (1992):
     a. Inovasi
     Guru perlu menyesuaikan program yang diterapkannya dengan kekhasan peserta didik, karakteristik kelas serta lingkungan hidup dan budaya peserta didik.
     b. Kegiatan yang memperkaya
Dalam menyusun materi dan mendisain pembelajaran pengayaan, kembangkan dengan kegiatan yang menyenangkan, membangkitkan minat, merangsang pertanyaan, dan sumber-sumber yang bervariasi dan memperkaya.
      c.  Merencanakan metodologi yang luas dan metode yang lebih bervariasi. Misalnya dengan memberikan project, pengembangan minat dan aktivitas-akitivitas menggugah (playful). Menerapkan informasi terbaru, hasil-hasil penelitian atau kemajuan program-program pendidikan terkini. Sedangkan Passow (1993) menyarankan bahwa dalam  merancang program  pengayaan,  penting untuk memperhatikan 3 hal:
        a.  Keluasan  dan  kedalaman  dari  pendekatan  yang  digunakan.
Pendekatan dan materi yang diberikan tidak hanya berisi yang yang luarnya (kulit-kulitnya) saja tetapi diberikan dengan  lebih menyeluruh dan  lebih mendalam. Contoh: membahas mengenai prinsip Phytagoras, tidak hanya memberikan rumus dan pemecahan soal saja tetapi juga memberikan pemahaman yang luas dari mulai sejarah terbentuknya hukum-hukum phytagoras dan bagaimana penerapan prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
        b.Tempo dan kecepatan dalam membawakan program Sesuaikan cara pemberian materi dengan tempo dan kecepatan peserta didik dalam menangkap materi yang diajarkan. Hal ini berkaitan dengan kecepatan daya tangkap yang dimiliki peserta didik sehingga materi dapat diberikan dengan lebih mendalam dan lebih dinamis untuk menghindari kebosanan karena peserta didik yang telah menguasai materi pelajaran yang diberikan di kelas.
    c. Memperhatikan isi dan tujuan dari materi yang diberikan Hal ini bertujuan agar kurikulum yang dirancang lebih tepat guna dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik. Renzulli (1979) menyatakan bahwa program pengayaan berbeda dengan program akselerasi karena pengayaan dirancang dengan lebih memperhatikan keunikan dan kebutuhan individual dari peserta didik.
 6.  Langkah-langkah Pembelajaran Pengayaan
    Langkah-langkah dalam pembelajaran pengayaan tidak terlalu jauh berbeda dengan program remedial. Diawali dengan kegiatan identifikasi, kemudian perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Guru tidak perlu menunggu diperolehnya penilaian otentik terhadap kemampuan peserta didik. Apabila melalui observasi dalam proses pembelajaran, peserta didik sudah terindikasi memiliki kemampuan yang lebih dari teman lainnya, bisa ditandai dengan penguasaan materi yang cepat dan membutuhkan waktu yang lebih singkat, sehingga peserta didik seringkali memiliki waktu sisa yang lebih banyak, dikarenakan cepatnya dia menyelesaikan tugas atau menguasai materi. Disinilah di butuhkan kepekaan guru dalam merencanakan danmemutuskan untuk melaksanakan pembelajaran pengayaan.
      Winner (1996) dalam Santrock (2007), mengemukakan karakteristik peserta didik yang berbakat antara lain :
      a.  Pesrerta didik yang berbakat biasanya cermat dalam setiap hal atau pun kesempatan dimana mereka harus menggunakan kemampuannya. Mereka adalah anak-anak yang selalu menjadi yang pertamadalam menguasai suatu pelajaran dengan usaha yang juga minimal dibanadingkan teman-teman atau peserta didik lain yang dikarenakan mereka sejak lahir memiliki kemampuan yang tinggi dalam stu atau beberapa bidang.
     b.  Dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik yang berbakat dapat berhasil
memecahkan masalah secara tepat dengan cara ia kembangkan atau ia temukan sendiri. Peserta didik yang berbakat dapat menangkap atau lebih menyukai petunjuk yang tidak eksplisit dibandingkan dengan peserta didik yang lain.
      c.  Memiliki hasrat untuk menguasai. Mereka memiliki hasrat, obsesi dan minat, dan kemampuan untuk fokus, sehingga sangat mudah baginya untuk memahami dan menguasai suatu hal. Guru diharapkan lebih peka dalam mengenali peserta didik yang memiliki karakteristik ini, dikarenakan mereka memiliki kebutuhan yang juga berbeda dibandingkan dengan teman-temannya.
 7. Pelaksanaan Pembelajaran Pengayaan
     Pemberian pembelajaran pengayaan pada hakikatnya adalah pemberian bantuan bagi peserta didik yang memiliki kemampuan lebih, baik dalam kecepatan maupun kualitas belajarnya. Agar pemberian pengayaan tepat sasaran maka perlu ditempuh langkah-langkah sistematis, yaitu:
    a. Identifikasi Kelebihan Kemampuan Belajar
      1)  Tujuan
  Identifikasi kemampuan berlebih peserta didik dimaksudkan untuk mengetahui jenis serta tingkat kelebihan belajar peserta didik. Kelebihan kemampuan belajar itu antara lain meliputi:
     a. Belajar lebih cepat.
  Peserta didik yang memiliki kecepatan belajar tinggi ditandai dengan cepatnya penguasaan kompetensi (SK/KD) mata pelajaran tertentu.
    b. Menyimpan informasi lebih mudah.
Peserta didik yang memiliki kemampuan menyimpan informasi lebih mudah, akan  memiliki  banyak  informasi yang tersimpan dalam memori/ ingatannya dan mudah diakses untuk digunakan.
    c. Keingintahuan  yang  tinggi.
Banyak bertanya dan menyelidiki merupakan tanda bahwa seorang peserta didik memiliki hasrat ingin tahu yang tinggi.
  d. Berpikir mandiri.
Peserta didik dengan kemampuan berpikir mandiri umumnya lebih menyukai tugas mandiri serta mempunyai kapasitas sebagai pemimpin.
    e. Superior dalam berpikir abstrak.
Peserta didik yang superior dalam berpikir abstrak umumnya menyukai kegiatan pemecahan masalah.
    f. Memiliki banyak minat.
Mudah termotivasi untuk meminati masalah baru dan berpartisipasi dalam banyak kegiatan.
  2) Teknik
Teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kemampuan berlebih peserta didik dapat dilakukan antara lain melalui : tes IQ, tes inventori, wawancara, dan pengamatan (observasi).
    a) Tes IQ (Intelligence Quotient) adalah tes yang digunakan untuk mengetahui tingkat kecerdasan peserta didik. Dari tes ini dapat diketahui tingkat kemampuan spasial, interpersonal, musikal, intrapersonal, verbal, logik/matematik, kinestetik, naturalistik, dsb.
   b) Tes inventori. Tes inventori digunakan untuk menemukan dan mengumpulkan data mengenai bakat, minat, hobi, kebiasaan belajar, dsb.
   c)  Wawancara. Wanwancara dilakukan dengan mengadakan interaksi lisan dengan peserta didik untuk menggali lebih dalam mengenai program pengayaan yang diminati peserta didik.
   d) Pengamatan (observasi). Pengamatan dilakukan dengan jalan melihat secara cermat perilaku belajar peserta didik. Dari pengamatan tersebut diharapkan dapat diketahui jenis maupun tingkat pengayaan yang perlu diprogramkan untuk peserta didik.
 b.  Bentuk Pelaksanaan Pembelajaran Pengayaan
Bentuk-bentuk pelaksanaan pembelajaran pengayaan dapat dilakukan antara lain melalui:
   1) Belajar Kelompok. Sekelompok peserta didik yang memiliki minat tertentu diberikan pembelajaran bersama pada jam-jam pelajaran sekolah biasa, sambil menunggu teman-temannya yang mengikuti pembelajaran remedial karena belum mencapai ketuntasan.
   2) Belajar mandiri. Secara mandiri peserta didik belajar mengenai sesuatu yang diminati.
   3) Pembelajaran berbasis tema. Memadukan kurikulum di bawah tema besar sehingga peserta didik dapat mempelajari hubungan antara berbagai disiplin ilmu.
  4) Pemadatan kurikulum. Pemberian pembelajaran hanya untuk kompetensi/materi yang belum diketahui peserta didik. Dengan demikian tersedia waktu bagi peserta didik untuk memperoleh kompetensi/materi baru, atau bekerja dalam proyek secara mandiri sesuai dengan kapasitas maupun kapabilitas masing-masing.
    Perlu diperhatikan bahwa penyelenggaraan pembelajaran pengayaan ini terutama terkait dengan kegiatan tatap muka untuk jam-jam pelajaran sekolah biasa. Namun demikian kegiatan pembelajaran pengayaan dapat pula dikaitkan dengan kegiatan tugas terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Sekolah dapat juga memfasilitasi peserta didik dengan kelebihan kecerdasan dalam bentuk kegiatan pengembangan diri dengan spesifikasi pengayaan kompetensi tertentu, misalnya untuk bidang sains. Pembelajaran seperti ini diselenggarakan untuk membantu peserta didik mempersiapkan diri mengikuti kompetisi tingkat nasional maupun internasional seperti olimpiade internasional fisika, kimia dan biologi.
 8.  Penilaian  Pembelajaran  Pengayaan
    Sebagai bagian integral dari kegiatan pembelajaran, kegiatan pengayaan tidak lepas kaitannya dengan penilaian. Penilaian hasil belajar kegiatan pengayaan, tentu tidak sama dengan kegiatan pembelajaran biasa, tetapi cukup dalam bentuk portofolio, dan harus dihargai sebagai nilai tambah (lebih) dari peserta didik yang normal.

Komentar

  1. Artikel nya bagus yah terbaik lah untuk kamu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk materi Yang di paparkan sudah bagus tapi penulisan perlu di perbaiki sesuai dengan kaidah2 B.indonesia

      Hapus
  2. Artinya sudah bagus dan ditunggu artikel berikutnya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

HAKIKAT MEDIA PEMBELAJARAN

PROSEDUR PEMBELAJARAN

Hakikat Strategi Pembelajaran