KEGIATAN REMEDIAL DAN PENGAYAAN
TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
“Kegiatan Remedial Dan Pengayaan “
DISUSUN OLEH :
Nama : Nanda Kurnia Putri
Bp : 1820186
Kelas : PGSD 44
DOSEN PEMBIMBING
Yessi Rifmasari, M. Pd.
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA
PADANG
2020
KEGIATAN REMEDIAL DAN PENGAYAAN
A. Remedial
1. Pengertian Remedial
Istilah remedial berasal dari bahasa inggris yaitu Remediation. Kata Remediation berakar dari kata “to remedy”, yang bermakna “menyembuhkan”. Jadi remidiasi ditekankan pada proses “penyembuhan”. Sementara itu kata remedial merupakan kata sifat, sehingga dalam bahasa inggris selalu dibandingkan dengan kata benda, minsalnya “remedial work”, yang berarti pekerjaan penyembuhan. Dalam bahasa indonesia yang baik dan benar, kata remedial tidak berdiri sendiri tetapi disandingkan dengan kata kegiatan atau pembelajaran, sehingga istilah yang digunakan adalah kegiatan remedial atau pembelajaran remedial. Pembelajaran remedial adalah kegiatan yang ditunjukkan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menguasai materi pembelajaran. Pembelajaran remedial merupakan layanan pendidikan yang diberikan kepada sisiwa untuk memperbaiki prestasi belajarnya sehingga mencapai kriteria ketuntasan yang ditetapkan. Pembelajaran remedial adalah pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai ketuntasan KD tertentu, menggunakan berbagai metode yang diakhiri oleh penilaian untuk mengukur kembali tinggat ketuntasan peserta didik.
Pada hakikatnya semua peserta didik akan dapat mencapai standar konpetensi yang ditentukan, hanya waktu pencapaiannya yang berbeda. Oleh karenanya perlu adanya program pembelajaran remedial (perbaikan). Metode yang digunakan dapat bervariasi sesuai dengan sifat,jenis, latar belakang kesulitan belajar yang dialami peserta didik dan tujuan pembelajarannya pun dirumuskan sesui dengan kesulitan yang dialami peserta didik. Pada pembelajaran remedial, media belajar harus betul-betul disiapkan guru agar dapat mempermudah peserta didik dalam memahami pelajaran yang dirasa sulit. Alat evaluasi yang digunaka
dalam pembelajaran remedial pun perlu disesuaikan dengan kesulitan belajar yang dialami peserta didik.
2. Hakikat Pembelajaran Remedial
Pembelajaran remedial merupakan layanan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik untuk memperbaiki prestasi belajarnya sehingga mencapai kriteria ketuntasan yang ditetapkan. Untuk memahami konsep penyelenggaraan model pembelajaran remedial, terlebih dahulu perlu diperhatikan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diberlakukan berdasarkan Permendiknas 22, 23, 24 Tahun 2006 dan Permendiknas No. 6 Tahun 2007 menerapkan sistem pembelajaran berbasis kompetensi, sistem belajar tuntas, dan sistem pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual peserta didik. Sistem dimaksud ditandai dengan dirumuskannya secara jelas standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang harus dikuasai peserta didik. Penguasaan SK dan KD setiap peserta didik diukur menggunakan sistem penilaian acuan kriteria. Jika seorang peserta didik mencapai standar tertentu maka peserta didik dinyatakan telah mencapai ketuntasan.
Pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran tuntas, dimulai dari penilaian kemampuan awal peserta didik terhadap kompetensi atau materi yang akan dipelajari. Kemudian dilaksanakan pembelajaran menggunakan berbagai metode seperti ceramah, demonstrasi, pembelajaran kolaboratif/kooperatif, inkuiri, diskoveri, dsb. Melengkapi metode pembelajaran digunakan juga berbagai media seperti media audio, video, dan audiovisual dalam berbagai format, mulai dari kaset audio, slide, video, komputer, multimedia, dsb. Di tengah pelaksanaan pembelajaran atau pada saat kegiatan pembelajaran sedang berlangsung, diadakan penilaian proses menggunakan berbagai teknik dan instrumen dengan tujuan untuk mengetahui kemajuan belajar serta seberapa jauh penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah atau sedang dipelajari. Pada akhir program pembelajaran, dia dakan penilaian yang lebih formal berupa ulangan harian. Ulangan harian dimaksudkan untuk menentukan tingkat pencapaian belajar peserta didik, apakah seorang peserta didik gagal atau berhasil mencapai tingkat penguasaan tertentu yang telah dirumuskan pada saat pembelajaran direncanakan.
Apabila dijumpai adanya peserta didik yang tidak mencapai penguasaan kompetensi yang telah ditentukan, maka muncul permasalahan mengenai apa yang harus dilakukan oleh pendidik. Salah satu tindakan yang diperlukan adalah pemberian program pembelajaran remedial atau perbaikan. Dengan kata lain, remedial diperlukan bagi peserta didik yang belum mencapai kemampuan minimal yang ditetapkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Pemberian program pembelajaran remedial didasarkan atas latar belakang bahwa pendidik perlu memperhatikan perbedaan individual peserta didik. Dengan diberikannya pembelajaran remedial bagi peserta didik yang belum mencapai tingkat ketuntasan belajar, maka peserta didik ini memerlukan waktu lebih lama dari pada mereka yang telah mencapai tingkat penguasaan. Mereka juga perlu menempuh penilaian kembali setelah mendapatkan program pembelajaran remedial.
3. Pentingnya Pembelajaran Remedial
Setiap guru berharap peserta didiknya dapat mencapai penguasaan kompetensi yang telah ditentukan. Berdasarkan permendik bud No.65 tentang Standar Proses,No.66 thn 2013 tentang standar penilaian, setiap pendidik hendaknya memperhatikan prinsip perbedaan individu (kemampuan awal, kecerdasan, kepribadian, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, gaya belajar), maka program pembelajaran remedial dilakukan untuk memenuhi kebutuhan/hak anak. Dalam program pembelajaran remedial guru akan membantu peserta didik, untuk memahami kesulitan belajar yang dihadapinya, mengatasi kesulitannya tersebut dengan memperbaiki cara belajar dan sikap belajar yang dapat mendorong tercapainya hasil belajar yang optimal.
4. Tujuan Pembelajaran Remedial
Tujuan guru melaksanakan kegiatan remedial adalah membantu siswa yang mengalami kesulitan menguasai kompetensi yang telah ditentukan agar mencapai hasil belajar yang lebih baik. Secara umum tujuan kegiatan remedial adalah sama dengan pembelajaran pada umumnya yakni memperbaiki miskonsepsi siswa sehingga siswa dapat mencapai kompetensi yang telah ditetapkan berdasarkan kurikulum yang berlaku. Secara khusus kegiatan remedial bertujuan membantu siswa yang belum tuntas menguasai kompetensi yang ditetapkan melalui kegiatan pembelajaran tambahan. Melalui kegiatan remedial, siswa dibantu untuk mengatasi kesulitan belajar yang dihadapinya.
5. Fungsi Pembelajaran Remedial
Dalam kaitannya dengan proses pembelajaran, fungsi kegiatan remedial adalah sebagai berikut:
a. Memperbaiki cara belajar siswa dan cara mengajar guru (Fungsi Korektif). Fungsi korektif ini dilaksanakan guru berdasarkan hasil kesulitan belajar siswa yang diketemukan. Bertolak dari hasil analisis tersebut, guru memperbaiki berbagai aspek kesulitan proses pembelajaran, mulai dari rumusan indikator hasil belajar, materi ajar, pengalaman belajar, penilaian dan evaluasi, serta tindak lanjut pembelajaran. Rumusan kompetensi dan indikator hasil belajar untuk remedial dibuat berdasarkan kesulitan belajar yang dialami siswa. Selanjutnya guru mengorganisasi dan mengembangkan materi pembelajaran sesuai dengan taraf kemampuan siswa, memilih dan menerapkan alat dan berbagai media serta sumber belajar untuk memudahkan siswa belajar, memilih dan menetapkan pengalaman belajar yang sesuai.
b. Meningkatkan pemahaman guru dan siswa terhadap kelebihan dan kekurangan dirinya (Fungsi Pemahaman) Kegiatan remedial memberikan pemahaman lebih baik kepada siswa maupun guru. Bagi seorang guru yang akan melaksanakan kegiatan remedial terlebih dulu harus memahami kelebihan dan kelemahan kegiatan pembelajaran yang dilakukannya. Untuk kepentingan itu maka guru terlebih dulu mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakannya. Dari evaluasi tersebut akan diketahui apakah strategi dan pembalajarannya sudah tepat, apakah pengalaman belajar yang dipilih sudah sudah sesuai dengan tingkat perkembangan siswa, apakah media dan alat yang digunakan sudah membantu mempermudah pemahaman siswa. Dari hasil evaluasi inilah guru memperbaiki proses pembelajarannya. Pemahaman yang diharapkan terbentuk pada diri siswa dari kegiatan remedial adalah siswa memahami kelebihan dan kelemahan cara belajarnya. Apakah selama pembelajaran siswa sudah berperan aktif apa belum, Apakah sudah mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh apa belum, Nah dari pemahaman akan kelemahan dan kelebihan dirinya ini siswa akan dengan kesadaran sendiri memperbaiki sikap dan cara belajarnya sehingga dapat mencapai hasil belajar yang lebih baik.
C. Menyesuaikan Pembelajaran dengan Karakteristik Siswa (Fungsi Penyesuaian) Fungsi penyesuaian dalam kegiatan remedial adalah penyesuaian guru terhadap karakteritik siswa. Untuk menentukan hasil belajar siswa dan materi pembelajaran disesuaikan dengan kesulitan yang dihadapi siswa. Kegiatan pembelajaran guru harus menerapkan kekuatan yang dimiliki individu siswa melalui penggunaan berbagai metode dan alat/media pembelajaran.
d. Mempercepat Penguasaan Siswa terhadap Materi Pelajaran (Fungsi Akselerasi) Kegiatan remedial mempunyai fungsi akselerasi terhadap pembelajaran karena siswa dapat dipercepat penguasaan terhadap materi pelajaran melalui penambahan waktu dan frekuensi pembelajaran. Tanpa penambahan frekuensi pembelajaran maka siswa akan semakin tertinggal jauh dari teman-temannya yang telah menguasai materi pelajaran.
f. Memperkaya Pemahaman Siswa tentang Materi Pembelajaran (Fungsi Pengayaan) Fungsi pengayaan menurut Mulyadi dimaksudkan agar pembelajaran remedial dapat memperkaya proses belajar mengajar. Bahan pelajaran yang tidak dismpaikan dalam pelajaran reguler dapat diperoleh melalui pembelajaran remedial. Pengayaan lain adalah dalam segimetode dan alat yang dipergunakan dalam pembelajaran remedial.
Pendapat Mulya di diatas sependapat dengan pendapat Abu Alumardi dan Widodo Supriyono bahwa maksud pembelajaran remedial itu dapat Memperkaya proses belajar mengajar. Pengayaan dapat melalui atau terletak dalam pengajaran perbaikan, sehingga hasil yang diperoleh lebih banyak, lebih dalam atau dengan singkat prestasi belajarnya lebih kaya.
g. Membantu Mengatasi Kesulitan Siswa dalam Aspek Sosial-Pribadi (Fungsi Terapeutik). Fungsi teurapeutik ditunjukkan dengan kegiatan membatu siswa yang mengalami kesulitan dalam aspek sosial dan pribadi. Perlu diketahui bahwa siswa yang merasa kurang berhasil dalam belajar sering merasa rendah diri atau terisolasi dalam pergaulan dari teman-temannya. Guru yang membantu siswa mencapai prestasi belajar yang lebih baik melalui kegiatan remedial berarti guru telah membantu siswa meningkatkan rasa percaya dirinya. Tumbuhnya rasa percaya diri ini membuat siswa menjadi tidak merasa rendah diri lagi dan dapat bergaul dengan teman-temannya.
6. Prinsip Pembelajaran Remedial
Pembelajaran remedial merupakan pemberian perlakuan khusus terhadap siswa yang mengalami hambatan dalam kegiatan belajarnya. Hambatan yang terjadi dapat berupa kurangnya pengetahuan dan keterampilan prasyarat atau lambat dalam mecapai kompetensi. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran remedial sesuai dengan sifatnya sebagai pelayanan khusus adalah sebagai berikut:
a. Adaptif
Setiap siswa memiliki keunikan sendiri-sendiri. Oleh karena itu, program pembelajaran remedial hendaknya memungkinkan siswa untuk belajar sesuai dengan kecepatan, kesempatan, dan gaya belajar masing-masing. Dengan kata lain, pembelajaran remedial harus mengakomodasi perbedaan individual siswa.
b. Interaktif
Pembelajaran remedial hendaknya memungkinkan siswa untuk secara intensif berinteraksi dengan guru dan sumber belajar yang tersedia. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa kegiatan belajar siswa yang bersifat perbaikan perlu selalu mendapatkan monitoring dan pengawasan agar diketahui kemajuan belajarnya. Jika dijumpai ada siswa yang mengalami kesulitan maka guru harus segera memberikan bantuan.
c. Fleksibilitas dalam Metode Pembelajaran dan Penilaian. Sejalan dengan sifat keunikan dan kesulitan belajar siswa yang berbeda-beda, maka dalam pembelajaran remedial perlu digunakan berbagai metode mengajar dan metode penilaian yang sesuai dengan karakteristik siswa.
d. Pemberian Umpan Balik
Umpan balik berupa informasi yang diberikan kepada siswa mengenai kemajuan belajarnya perlu diberikan sesegera mungkin. Umpan balik dapat bersifat korektif maupun konfirmatif. Dengan sesegera mungkin memberikan umpan balik dapat dihindari kekeliruan belajar yang berlarut-larut yang dialami siswa.
e. Kesinambungan dan Ketersediaan dalam Pemberian Pelayana. Program pembelajaran reguler dengan pembelajaran remedial merupakan satu kesatuan, dengan demikian program pembelajaran reguler dengan remedial harus berkesinambungan dan programnya selalu tersedia agar setiap saat siswa dapat mengaksesnya sesuai dengan kesempatan masing-masing.
7. Bentuk Kegiatan Remedial
Kegiatan remedial dilaksanakan guru untuk membantu siswa mencapai kriteria ketuntasan minimal yang harus dicapai siswa. Dengan memperhatikan pengertian dan prinsip pembelajaran remedial, menurut Majid (2008:237) pembelajaran remedial dapat dilakukan dengan berbagai bentuk kegiatan antara lain:
a. Memberikan tambahan penjelasan atau contoh. Siswa kadang-kadang mengalami kesulitan memahami penyampaian materi pembelajaran untuk mencapai kompetensi yang disajikan hanya sekali, apalagi kurang ilustrasi dan contoh. Pemberian tambahan ilustrasi, contoh dan bukan contoh untuk pembelajaran konsep misalnya akan membantu pembentukan konsep pada diri siswa. Menggunakan strategi pembelajaran yang berbeda dengan sebelumnya penggunaan alternatif berbagai strategi pembelajaran akan memungkinkan siswa dapat mengatasi masalah pembelajaran yang dihadapi.
b. Mengkaji ulang pembelajaran yang lalu.
Penerapan prinsip pengulangan dalam pembelajaran akan membantu siswa menangkap pesan pembelajaran. Pengulangan dapat dilakukan dengan menggunakan metode dan media yang sama atau metode dan media yang berbeda. Guru melakukan pembelajaran kembali kompetensi yang belum dikuasai oleh siswa. Pembelajaran hanya difokuskan pada kesulitan yang dialami oleh siswa. Jika siswa kurang dalam hal mengaplikasi konsep maka hendaknya guru banyak memberi contoh latihan penerapan konsep dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran ulang dapat disampaikan dengan cara penyederhanaan materi, variasi cara penyajian, penyederhanaan tes/pertanyaan. Pembelajaran ulang dilakukan bilamana sebagian besar atau semua peserta didik belum mencapai ketuntasan belajar atau mengalami kesulitan belajar. Guru perlu memberikan penjelasan kembali dengan menggunakan metode dan/atau media yang lebih tepat.
c. Menggunakan berbagai jenis media
Penggunaan berbagai jenis media dapat menarik perhatian siswa. Perhatian memegang peranan penting dalam proses pembelajaran. Semakin memperhatikan, hasil belajar akan lebih baik. Namun siswa seringkali mengalami kesulitan untuk memperhatikan atau berkonsentrasi dalam waktu yang lama. Agar perhatian siswa terkonsentrasi pada materi pelajaran perlu digunakan berbagai media untuk mengendalikan perhatian siswa.
d. Melakukan Aktivitas Fisik (misal demonstrasi, atau praktik) Melakukan aktivitas fisik dalam kegiatan remedial, misal untuk memahami konsep IPA bahwa gaya dapat mengubah bentuk benda, dan besar kecilnya gaya mempengaruhi besar kecilnya perubahan bentuk benda. Terkait dengan hal itu sebaiknya guru memberi kesempatan yang lebih banyak dan dengan benda yang bervariasi pada siswa agar siswa dapat memperoleh pengalaman yang lebih kaya untuk membangun konsep tersebut. Dengan cara ini diharapkan siswa akan lebih mudah memahami konsep tersebut karena didukung oleh data yang cukup.
Kegiatan Kelompok
e. Kerja kelompok dan diskusi dapat digunakan guru untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Yang harus diperhatikan guru dalam menentukan kelompok agar kerja kelompok itu efektif adalah diantara anggota kelompok itu harus benar-benar ada siswa yang menguasai materi tersebut sehingga mampu memberi penjelasan kepada siswa lainnya.
f.Tutor Sebaya
Tutor sebaya adalah teman sekelas yang memiliki kecepatan belajar lebih. Mereka perlu dimanfaatkan untuk memberikan tutorial kepada rekannya yang mengalami kelambatan belajar. Salah seorang siswa yang lebih pandai dari kelas yang sama atau dari kelas yang lebih tinggi inilah yang dijadikan tutornya. Dengan teman sebaya diharapkan peserta didik yang mengalami kesulitan belajar akan lebih terbuka dan akrab.
g. Menggunakan Sumber Belajar Lain
Siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat dibantu dengan teknik memberikan kesempatan untuk mengunjungi ahli atau praktisi yang berkaitan dengan materi yang dibahas. Para ahli atau praktisi ini merupakan sumber belajar. Misal untuk mengatasi kesulitan belajar tentang bagaimana berternak ayam petelur/pedaging, siswa tersebut bisa mengunjungi salah seorang peternak ayam terdekat untuk diminta bantuannya memberikan penjelasan yang lebih gamblang.
8. Strategi dan Teknik Remedial
Untuk menentukan strategi dan teknik pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran remedial, terlebih dahulu harus diperhatikan tentang faktor-faktor yang terdapat dalam pembelajaran remedial itu sendiri. Faktor-faktor itu antara lain yang pokok menurut Nana Sukmadinata dan Thomas :
a. Sifat perbaikan itu sendiri
b. Jumlah siswayang memerlukan kegiatan perbaikan
c. Tempat bantuan yang berupa kegiatan perbaikan itu diberikan
d. Waktu penyelenggarakan kegiatan perbaikan
e. Siapa yang menyelenggarakan kegiatan perbaikan
f. Metode yang dipakai dalam memberikan perbaikan
g. Sarana atau alat yang sesuai bagi kegiatan perbaikan itu
h. Tingkat kesulitan siswa
Berdasarkan faktor yang terdapat dalam kegiatan remedial diatas, maka dapat dipilih dan ditentukan strategi dan teknik pembelajaran remedial. Strategi dan teknik pembelajaran remedial tersebut seperti di rumuskan Izhar Hasis yang di simpulkan dari Ross dan Santley dari Dinkmayer and Caidweel dalam bukunya Development Counseling, adalah:
a. Strategi dan Teknik Pendekatan bersifat Kuratif. Pendekatan pengajaran remedial dikatakan bersifat kuratif kalau dilakukan setelah selesainya proses belajar mengajar utama diselenggarakan. Diadakannyan kegiatan ini didasarkan atas kenyataan empirik bahwa seseorang atau sejumlah orang atau mungkin sebagian besar atau seluruh anggota kelas atau kelompok belajara dapat dipandang tidak mampu menyelesaikan proses belajar mengajar yang bersangkutan secara sempurna sesuai dengan kriteria keberhasialan yang ditetapkan. Teknik pendekatan yang dipakai dalam hal ini adalah:
1) Pengulangan (repatation)
Pelaksanaannya dapat dilakukan pada tiap akhir jam pelajaran, tiap akhir unit (satuan) pelajaran tertentu, maupun setiap akhir pokok pembahasan. Sasaran dapat diberikan kepada perorangan (individual maupun kelompok), tergantung kepada kebutuhan. Sedangkan waktu penyampaiannya dapat diberikan sesudah pelajaran selesai maupun diluar jam pelajaran. Misalnya pada sore hari. Sering kita lihat ada guru yang memberikan pelajaran tambahan/ulangan pada waktu sore hari pada murid tertentu. Cara lain yang dapat diberikan melalui “kelas remedial” yaitu khusus bagi siswa yang memerlukan bantuan tersendiri lantaran rendah prestasi. Siswa lainnya melakukan belajar seperti biasa.
2) Pengayaan (enrichment) dan Pengukuhan (reinforcement). Kalau layanan pengulangan ditujukan pada siswa yang mempunyai kelemahan sangat mendasar, maka layanan pengayaan dan pengukuhan ditujukan pada siswa yang mempunyai kelemahan ringan. Teknik pelaksanaannya dapat dengan memberikan tugas atau soal pekerjaan rumah.
3) Percepatan (acceleration)
Percepatan diberikan kepada kasus berbakat tetapi menunjukkan kesulitan psikososial atau ego emosional. Ada dua kemungkinan pelaksanaan, yaitu:
a) Promosi penuh status aka demiknya ke tingkat yang lebih tinggi sebatas kemungkinan, kalau memang yang bersangkutan menunjukkan keunggulan yang menyeluruh.
b) Maju berkelanjutan jika kasus menonjol pada beberapa bidang tertentu. Pada siswa kasus dapat diberikan layanan dengan bahan pelajaran yang lebih tinggi sebatas kemampuannya.
Bila ketiga alternatif teknik pendekatan ini memungkinkan untuk di administrasikan secara efektif, maka kesulitan yang dialami siswa baik dalam arti bagi peningkatan prestasi akademinya maupun kemampuan penyesuaian mungkin berangsur-angsur dapat dikurangi.
9. Metode Pengajaran Remedial
Dalam memberikan pengaran remedi dilakukan dengan beberapa metode, antara lain:
a. Metode pemberian tugas
Dalam pemberian tugas dapat diberikan kepada kelompok ataupun individual. Tugas yang diberikan sesuai dengan jenis, sifat, dan latar belakang kesulitan yang dihadapi. Metode ini dapat pula diberikan untuk mengetahui kasus yang sedang dicari. Keuntungan dari metode ini adalah:
1) Siswa dapat memahami dirinya, baik kelebihan maupun kekurangannya
2) Untuk memperdalam atau memperluas materi pelajaran
3) Memperbaiki cara-cara belajar yang kurang efesien
4) Mempercepat kemajuan belajarnya baik pada kelompok maupun individual.
b. Metode diskusi
Dengan diskusi akan terjadi interaksi anatar individu untuk memecahkan masalah, sehingga setiap individuakan dapat memberikan buah pikirannya untuk memecahkan masalah yang dilontarkan oleh guru. Dalam pengajaran remedial metode diskusi dapat dipergunakan untuk memecahkan kesulitan yang sama dalam suatu kelompok, untuk mencri pemecahannya.
10. Langkah-langkah Kegiatan Remedial
Kegiatan remedial dapat dilaksanakan sebelum kegiatan pembelajaran biasa untuk membantu siswa yang diduga akan mengalami kesulitan (preventif), setelah kegiatan pembelajaran biasa untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar (kuratif), atau selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran biasa (pengembangan). Dalam melaksanakan kegiatan remedial guru dapat menerapkan berbagai metode dan media sesuai dengan kesulitan yang dihadapi dan tingkat kemampuan siswa serta menekankan pada segi kekuatan yang dimiliki siswa.
Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam kegiatan remedial adalah analisis hasil diagnosis kesulitan belajar, menemukan penyebab kesulitan, menyusun rencana kegiatan remedial, melaksanakan kegiatan remedial, dan menilai kegiatan remedial. Pelaksanaan remediasi sebaiknya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
a. Analisis Hasil Diagnosis
Diagnosis kesulitan belajar adalah proses pemeriksaan terhadap siswa yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar. Dari kegiatan tersebut guru akan mengetahui para siswa yang perlu mendapatkan layanan remediasi.
1) Tujuan
Diagnosis kesulitan belajar dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kesulitan belajar peserta didik. Kesulitan belajar dapat dibedakan menjadi kesulitan ringan, sedang, dan berat.
a) Kesulitan belajar ringan biasanya dijumpai pada peserta didik yang kurang perhatian di saat mengikuti pembelajaran.
b) Kesulitan belajar sedang dijumpai pada peserta didik yang mengalami gangguan belajar yang berasal dari luar diri peserta didi, misalnya faktor keluarga, lingkungan tempat tinggal, pergaulan, dsb.
c) Kesulitan belajar berat dijumpai pada pesrta didik yang mengalami ketunaan pada diri mereka, misalnya tuna rungu, tuna netra, tuna daksa, dsb.
2) Teknik
Teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kemampuan berlebih peserta didik dapat dilakukan antara lain melalui : tes IQ, tes inventori, wawancara, pengamatan, dsb.
a) Tes prasyarat adalah tes yang digunakan untuk mengetahui apakah prasyarat yang diperlukan untuk mencapai penguasaan kompetensi tertentu terpenuhi atau belum. Prasyarat ini meliputi prasyarat pengetahuan dan prasyarat keterampilan.
b) Tes diagnostik digunakan untuk mengetahui kesulitan peserta didik dalam menguasai kompetensi tertentu. Misalnya dalam mempelajari operasi bilangan, apakah peserta didik mengalami kesulitan pada kompetensi penambahan, pengurangan, pembagian, atau perkalian.
c) Wanwancara dilakukan dengan mengadakan interaksi lisan dengan peserta didik untuk menggali lebih dalam mengenai program pengayaan yang diminati peserta didik.
d) Pengamatan (observasi). Pengamatan dilakukan dengan jalan melihat secara cermat perilaku belajar peserta didik. Dari pengamatan tersebut diharapkan dapat diketahui jenis maupun tingkat pengayaan yang perlu diprogramkan untuk peserta didik.
Terkait dengan kepentingan remedisi ini maka yang menjadi fokus perhatian adalah tingkat ketercapaian kriteria keberhasilan yang dicapai oleh siswa yang mengalami kesulitan belajar. Jika kriteria tingkat ketercapaiannya 80%, maka siswa yang belum mencapai kriteria tersebut perlu mendapatkan pembelajaran remedial. Informasi selanjutnya yang perlu diketahui guru adalah materi apa yang siswa merasakan kesulitan secara individual.
b. Menemukan Penyebab Kesulitan
Penyebab kesulitan belajar siswa harus diidentifikasi lebih dulu sebelum guru merancang remediasi, karena gejala yang sama sangat dimungkinkan bagi siswa yang berbeda jenis penyebab kesulitannya berbeda pula.
c. Menyusun Rencana Kegiatan Remedial
Rencana kegiatan remedial dapat disusun setelah guru mengetahui (i) siswa-siswa yang perlu diremediasi, (ii) penyebab kesulitan belajar, (iii) topik-topik yang belum dikuasai. Selanjutnya guru menyusun rencana pembelajaran seperti pembelajaran pada umumya. Perencanaan tersebut meliputi hal-hal:
1) Merumuskan indikator hasil belajar
2) Menentukan materi yang sesuai dengan indikator hasil belajar
3) Memilih strategi dan metode yang sesuai dengan karakteristik siswa
4) Merencanakan waktu yang diperlukan
5) Menentkan jenis, prosedur, dan alat penilaian.
d. Melakukan Kegiatan Remedial
Melaksanakan kegiatan remedial sesuai rencana yang telah disusun. Sebaiknya remediasi dilaksanakan sesegera mungkin. Semakin cepat dilaksanakan semakin baik, karena siswa selain cepat terbantu mengatasi kesulitan belajarnya, sehingga semakin besar kemungkinan siswa berhasil dalam belajarnya.
e. Menilai Kegiatan Remedial
Untuk mengetahui berhasil atau tidaknya remediasi yang telah dilakukan perlu dilakukan penilaian. Jika penilaian menunjukkan kemajuan belajar siswa sesuai dengan yang diharapkan, berarti kegiatan remedial yang direncanakan dan dilaksanakan cukup efektif membantu siswa mengatasi kesulitan belajarnya. Namun jika belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan berarti kegiatan remedial yang direncanakan dan dilaksanakan kurang efektif. Untuk itu guru harus menganalisis setiap komponen pembelajaran.
11. Bentuk Pelaksanaan Pembelajaran Remedial
Setelah diketahui kesulitan belajar yang dihadapi peserta didik, langkah berikutnya adalah memberikan perlakuan berupa pembelajaran remedial. Bentuk-bentuk pelaksanaan pembelajaran remedial antara lain:
a. Pemberian pembelajaran ulang dengan metode dan media yang berbeda. Pembelajaran ulang dapat disampaikan dengan cara penyederhanaan materi, variasi cara penyajian, penyederhanaan tes/pertanyaan. Pembelajaran ulang dilakukan bilamana sebagian besar atau semua peserta didik belum mencapai ketuntasan belajar atau mengalami kesulitan belajar. Pendidik perlu memberikan penjelasan kembali dengan menggunakan metode dan/atau media yang lebih tepat.
b. Pemberian bimbingan secara khusus, misalnya bimbingan perorangan. Dalam hal pembelajaran klasikal peserta didik mengalami kesulitan, perlu dipilih alternatif tindak lanjut berupa pemberian bimbingan secara individual. Pemberian bimbingan perorangan merupakan implikasi peran pendidik sebagai tutorial. Sistem tutorial dilaksanakan bilamana terdapat satu atau beberapa peserta didik yang belum berhasil mencapai ketuntasan.
c. Pemberian tugas-tugas latihan secara khusus. Dalam rangka menerapkan prinsip pengulangan, tugas-tugas latihan perlu diperbanyak agar peserta didik tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan tes akhir. Peserta didik perlu diberi latihan intensif (drill) untuk membantu menguasai kompetensi yang ditetapkan.
d. Pemanfaatan tutor sebaya.
Tutor sebaya adalah teman sekelas yang memiliki kecepatan belajar lebih. Mereka perlu dimanfaatkan untuk memberikan tutorial kepada rekannya yang mengalami kelambatan belajar. Dengan teman sebaya diharapkan peserta didik yang mengalami kesulitan belajar akan lebih terbuka dan akrab.
12. Waktu Pelaksanaan Pembelajaran Remedial
Pembelajaran remedial dilakukan ketika peserta didik teridentifikasi oleh guru mengalami kesulitan terhadap penguasaan materi pada KD tertentu yang sedang berlangsung. Guru dapat (segera) melakukan perbaikan pembelajaran (remedial) sesuai dengan kesulitan peserta didik tersebut, tanpa mengganggu hasil tes (ulangan harian). Program pembelajaran remedial dilaksanakan di luar jam pelajaran efektif atau ketika proses pembelajaran berlangsung (bila memungkinkan).
Program pembelajaran remedial dilaksanakan sampai peserta didik menguasai kompetensi dasar yang diharapkan (tujuan tercapai). Ketika peserta didik telah mencapai kompetensi minimalnya (setelah program pembelajaran remedial dilakukan), maka pembelajaran remedial tidak perlu dilanjutkan.
13. Perbedaan Pembelajaran Biasa dengan Pembelajaran Remedial. Pembelajaran remedial memiliki titik perbedaan jika dibandingkan dengan pembelajaran biasa ditinjau dari sudut peserta, tujuan, metode, pelaksanaan, alat, pendekatan, dan evaluasi (Sutikni, 2008: 167-168). Bagan di bawah ini menunjukkan perbedaan tersebut.
14. Tes Ulang
Tes ulang diberikan kepada peserta didik yang telah mengikuti program pembelajaran remedial agar dapat diketahui apakah peserta didik telah mencapai ketuntasan dalam penguasaan kompetensi yang telah di tentukan.
15. Penilaian Pengajaran Remedial
Untuk mengetahui berhasil tidaknya kegiatan remedial yang telah dilaksanakan, harus dilakukan penilaian. Penilaian ini dapat dilakukan dengan cara mengkaji kemajuan belajar siswa. Apabila sisiwa mengalami kemauan belajar sesuai yang diharapkan, berarti kegiatan remedial yang direncanakan dan dilaksanakan cukup efektif membantu siswa mengalami kemajuan dalam belajarnya berarti kegiatan remedial yang direncanakan dan dilaksanakan kurang efektif. Untuk itu guru harus menganalisis setiap komponen pembelaran.
Evaluasi dan Follow Up, cara manapu yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seseorang yang dilakukan evaluasi dan tindak lanjut, untuk melihat seberapa pengaruh bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. Kriteria-kriteria keberhasilan pengajaran remedial yaitu:
a. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas.
b. Perasaan posistif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melaui layanan.
c. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan remedial dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah belajar yang dialaminya.
Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmum (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektifitas remedial yang telah diberikan, yaitu apabiala:
a. Peserta didik telah menyadari (to be aware or) atas adanya masalah yang dihadapi
b. Peserta didik telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi
c. Peserta didik telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance).
d. Peserta didik telah menurun ketegangan emosinya (amotion stress release)
e. Peserta didik telah menurun penentangan terhadap lingkungannya
B. Pengayaan
1. Pengertian Pembelajaran Pengayaan
Secara umum pengayaan dapat diartikan sebagai pengalaman atau kegiatan peserta didik yang melampaui persyaratan minimal yang ditentukan oleh kurikulum dan tidak semua peserta didik dapat melakukannya. Program pengayaan dapat diartikan memberikan tambahan/perluasan pengalaman atau kegiatan peserta didik yang teridentifikasi melampaui ketuntasan belajar yang ditentukan oleh kurikulum.
Kegiatan pengayaan adalah kegiatan yang diberikan kepada siswa kelompok cepat agar mereka dapat mengembangkan potensinya secara optimal dengan memanfaatkan sisa waktu yang dimilikinya. Kegiatan pengayaan dilaksanakan dengan tujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperdalam penguasaan materi pelajaran yang berkaitan dengan tugas belajar yang sedang dilaksanakan sehingga tercapai tingkat perkembangan yang optimal.
Pengayaan pada kegiatan pembelajaran ditunjukkan oleh digunakannya sumber belajar, metode pembelajaran, dan alat bantu pembelajaran yang bervariasi dibandingkan pembelajaran biasa. Dengan pemanfaatan komponen-komponen yang disesuaikan dengan karakteristik siswa, maka siswa dapat melakukan proses belajar secara efektif. Sebagai contohnya siswa diminta untuk membaca sumber pustaka lain selain buku wajib, mengakses internet, diberi tugas pemecahan masalah yang lebih tinggi pengembangan penalarannya, melakukan penyelidikan sederhana, yang relevan dengan materi yang dipelajari. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh guru tersebut merupakan pengayaan bagi proses pembelajaran. Program pengayaan ini diberikan kepada kelompok siswa yang sudah mencapai batas ketuntasan belajar.
Metode yang digunakan dapat bervariasi sesuai dengan sifat, jenis, dan latar belakang kesulitan belajar yang dialami peserta didik.Dalam program pengayaan, media belajar harus betul-betul disiapkan guru agar dapat memfasilitasi peserta didik dalam menguasai materi yang diberikan.
2. Hakikat Pembelajaran Pengayaan
Secara umum pengayaan dapat diartikan sebagai pengalaman atau kegiatan peserta didik yang melampaui persyaratan minimal yang ditentukan oleh kurikulum dan tidak semua peserta didik dapat melakukannya. Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran tuntas, lazimnya guru mengadakan penilaian awal untuk mengetahui kemampuan peserta didik terhadap kompetensi atau materi yang akan dipelajari sebelum pembelajaran dimulai. Kemudian dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan berbagai strategi seperti ceramah, demonstrasi, pembelajaran kolaboratif/kooperatif, inkuiri, diskoveri, dsb. Melengkapi strategi pembelajaran digunakan juga berbagai media seperti media audio, video, dan audiovisual dalam berbagai format, mulai dari kaset audio, slide, video, komputer multimedia, dsb. Di tengah pelaksanaan pembelajaran atau pada saat kegiatan pembelajaran sedang berlangsung, diadakan penilaian proses dengan menggunakan berbagai teknik dan instrumen dengan tujuan untuk mengetahui kemajuan belajar serta seberapa jauh penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah atau sedang dipelajari. Penilaian proses juga digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran bila dijumpai hambatan-hambatan.
Pada akhir program pembelajaran, diadakan penilaian yang lebih formal berupa ulangan harian. Ulangan harian dimaksudkan untuk menentukan tingkat pencapaian belajar, apakah seorang peserta didik gagal atau berhasil mencapai tingkat penguasaan kompetensi tertentu. Penilaian akhir program ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan apakah peserta didik telah mencapai kompetensi (tingkat penguasaan) minimal atau ketuntasan belajar seperti yang telah dirumuskan pada saat pembelajaran direncanakan. Jika ada peserta didik yang lebih mudah dan cepat mencapai penguasaan kompetensi minimal yang ditetapkan, maka sekolah perlu memberikan perlakuan khusus berupa program pembelajaran pengayaan. Pembelajaran pengayaan merupakan pembelajaran tambahan dengan tujuan untuk memberikan kesempatan pembelajaran baru bagi peserta didik yang memiliki kelebihan sedemikain rupa sehingga mereka dapat mengoptimalkan perkembangan minat, bakat, dan kecakapannya. Pembelajaran pengayaan berupaya mengembangkan keterampilan berpikir, kreativitas, keterampilan memecahkan masalah, eksperimentasi, inovasi, penemuan, keterampilan seni, keterampilan gerak, dsb. Pembelajaran pengayaan memberikan pelayanan kepada peserta didik yang memiliki kecerdasan lebih dengan tantangan belajar yang lebih tinggi untuk membantu mereka mencapai kapasitas optimal dalam belajarnya.
3. Tujuan Pembelajaran Pengayaan
Kegiatan pengayaan dilaksanakan dengan tujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperdalam penguasaan materi pelajaran yang berkaitan dengan tugas belajar yang sedang dilaksanakan sehingga tercapai tingkat perkembangan yang optimal.
4. Jenis Pembelajaran Pengayaan
Ada tiga jenis pembelajaran pengayaan, yaitu:
a. Kegiatan eksploratori yang bersifat umum yang dirancang untuk disajikan kepada peserta didik. Sajian dimaksud berupa peristiwa sejarah, buku, tokoh masyarakat, dsb, yang secara regular tidak tercakup dalam kurikulum.
b. Keterampilan proses yang diperlukan oleh peserta didik agar berhasil dalam melakukan pendalaman dan investigasi terhadap topik yang diminati dalam bentuk pembelajaran mandiri.
c. Pemecahan masalah yang diberikan kepada peserta didik yang memiliki kemampuan belajar lebih tinggi berupa pemecahan masalah nyata dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah atau pendekatan investigatif/ penelitian ilmiah. Pemecahan masalah ditandai dengan:
1) Identifikasi bidang permasalahan yang akan dikerjakan
2) Penentuan fokus masalah/problem yang akan dipecahkan
3) Penggunaan berbagai sumber;
4) Pengumpulan data menggunakan teknik yang relevan
5) Analisis data
6) Penyimpulan hasil investigasi
Sekolah tertentu, khususnya yang memiliki peserta didik lebih cepat belajar dibanding sekolah-sekolah pada umumnya, dapat menaikkan tuntutan kompetensi melebihi standari isi. Misalnya sekolah-sekolah yang menginginkan memiliki keunggulan khusus.
5. Prinsip-prinsip Pembelajaran Pengayaan
Prinsip-prinsip program pengayaan yang perlu diperhatikan dalam mengonsep program pengayaan menurut Khatena (1992):
a. Inovasi
Guru perlu menyesuaikan program yang diterapkannya dengan kekhasan peserta didik, karakteristik kelas serta lingkungan hidup dan budaya peserta didik.
b. Kegiatan yang memperkaya
Dalam menyusun materi dan mendisain pembelajaran pengayaan, kembangkan dengan kegiatan yang menyenangkan, membangkitkan minat, merangsang pertanyaan, dan sumber-sumber yang bervariasi dan memperkaya.
c. Merencanakan metodologi yang luas dan metode yang lebih bervariasi. Misalnya dengan memberikan project, pengembangan minat dan aktivitas-akitivitas menggugah (playful). Menerapkan informasi terbaru, hasil-hasil penelitian atau kemajuan program-program pendidikan terkini. Sedangkan Passow (1993) menyarankan bahwa dalam merancang program pengayaan, penting untuk memperhatikan 3 hal:
a. Keluasan dan kedalaman dari pendekatan yang digunakan.
Pendekatan dan materi yang diberikan tidak hanya berisi yang yang luarnya (kulit-kulitnya) saja tetapi diberikan dengan lebih menyeluruh dan lebih mendalam. Contoh: membahas mengenai prinsip Phytagoras, tidak hanya memberikan rumus dan pemecahan soal saja tetapi juga memberikan pemahaman yang luas dari mulai sejarah terbentuknya hukum-hukum phytagoras dan bagaimana penerapan prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
b.Tempo dan kecepatan dalam membawakan program Sesuaikan cara pemberian materi dengan tempo dan kecepatan peserta didik dalam menangkap materi yang diajarkan. Hal ini berkaitan dengan kecepatan daya tangkap yang dimiliki peserta didik sehingga materi dapat diberikan dengan lebih mendalam dan lebih dinamis untuk menghindari kebosanan karena peserta didik yang telah menguasai materi pelajaran yang diberikan di kelas.
c. Memperhatikan isi dan tujuan dari materi yang diberikan Hal ini bertujuan agar kurikulum yang dirancang lebih tepat guna dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik. Renzulli (1979) menyatakan bahwa program pengayaan berbeda dengan program akselerasi karena pengayaan dirancang dengan lebih memperhatikan keunikan dan kebutuhan individual dari peserta didik.
6. Langkah-langkah Pembelajaran Pengayaan
Langkah-langkah dalam pembelajaran pengayaan tidak terlalu jauh berbeda dengan program remedial. Diawali dengan kegiatan identifikasi, kemudian perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Guru tidak perlu menunggu diperolehnya penilaian otentik terhadap kemampuan peserta didik. Apabila melalui observasi dalam proses pembelajaran, peserta didik sudah terindikasi memiliki kemampuan yang lebih dari teman lainnya, bisa ditandai dengan penguasaan materi yang cepat dan membutuhkan waktu yang lebih singkat, sehingga peserta didik seringkali memiliki waktu sisa yang lebih banyak, dikarenakan cepatnya dia menyelesaikan tugas atau menguasai materi. Disinilah di butuhkan kepekaan guru dalam merencanakan danmemutuskan untuk melaksanakan pembelajaran pengayaan.
Winner (1996) dalam Santrock (2007), mengemukakan karakteristik peserta didik yang berbakat antara lain :
a. Pesrerta didik yang berbakat biasanya cermat dalam setiap hal atau pun kesempatan dimana mereka harus menggunakan kemampuannya. Mereka adalah anak-anak yang selalu menjadi yang pertamadalam menguasai suatu pelajaran dengan usaha yang juga minimal dibanadingkan teman-teman atau peserta didik lain yang dikarenakan mereka sejak lahir memiliki kemampuan yang tinggi dalam stu atau beberapa bidang.
b. Dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik yang berbakat dapat berhasil
memecahkan masalah secara tepat dengan cara ia kembangkan atau ia temukan sendiri. Peserta didik yang berbakat dapat menangkap atau lebih menyukai petunjuk yang tidak eksplisit dibandingkan dengan peserta didik yang lain.
c. Memiliki hasrat untuk menguasai. Mereka memiliki hasrat, obsesi dan minat, dan kemampuan untuk fokus, sehingga sangat mudah baginya untuk memahami dan menguasai suatu hal. Guru diharapkan lebih peka dalam mengenali peserta didik yang memiliki karakteristik ini, dikarenakan mereka memiliki kebutuhan yang juga berbeda dibandingkan dengan teman-temannya.
7. Pelaksanaan Pembelajaran Pengayaan
Pemberian pembelajaran pengayaan pada hakikatnya adalah pemberian bantuan bagi peserta didik yang memiliki kemampuan lebih, baik dalam kecepatan maupun kualitas belajarnya. Agar pemberian pengayaan tepat sasaran maka perlu ditempuh langkah-langkah sistematis, yaitu:
a. Identifikasi Kelebihan Kemampuan Belajar
1) Tujuan
Identifikasi kemampuan berlebih peserta didik dimaksudkan untuk mengetahui jenis serta tingkat kelebihan belajar peserta didik. Kelebihan kemampuan belajar itu antara lain meliputi:
a. Belajar lebih cepat.
Peserta didik yang memiliki kecepatan belajar tinggi ditandai dengan cepatnya penguasaan kompetensi (SK/KD) mata pelajaran tertentu.
b. Menyimpan informasi lebih mudah.
Peserta didik yang memiliki kemampuan menyimpan informasi lebih mudah, akan memiliki banyak informasi yang tersimpan dalam memori/ ingatannya dan mudah diakses untuk digunakan.
c. Keingintahuan yang tinggi.
Banyak bertanya dan menyelidiki merupakan tanda bahwa seorang peserta didik memiliki hasrat ingin tahu yang tinggi.
d. Berpikir mandiri.
Peserta didik dengan kemampuan berpikir mandiri umumnya lebih menyukai tugas mandiri serta mempunyai kapasitas sebagai pemimpin.
e. Superior dalam berpikir abstrak.
Peserta didik yang superior dalam berpikir abstrak umumnya menyukai kegiatan pemecahan masalah.
f. Memiliki banyak minat.
Mudah termotivasi untuk meminati masalah baru dan berpartisipasi dalam banyak kegiatan.
2) Teknik
Teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kemampuan berlebih peserta didik dapat dilakukan antara lain melalui : tes IQ, tes inventori, wawancara, dan pengamatan (observasi).
a) Tes IQ (Intelligence Quotient) adalah tes yang digunakan untuk mengetahui tingkat kecerdasan peserta didik. Dari tes ini dapat diketahui tingkat kemampuan spasial, interpersonal, musikal, intrapersonal, verbal, logik/matematik, kinestetik, naturalistik, dsb.
b) Tes inventori. Tes inventori digunakan untuk menemukan dan mengumpulkan data mengenai bakat, minat, hobi, kebiasaan belajar, dsb.
c) Wawancara. Wanwancara dilakukan dengan mengadakan interaksi lisan dengan peserta didik untuk menggali lebih dalam mengenai program pengayaan yang diminati peserta didik.
d) Pengamatan (observasi). Pengamatan dilakukan dengan jalan melihat secara cermat perilaku belajar peserta didik. Dari pengamatan tersebut diharapkan dapat diketahui jenis maupun tingkat pengayaan yang perlu diprogramkan untuk peserta didik.
b. Bentuk Pelaksanaan Pembelajaran Pengayaan
Bentuk-bentuk pelaksanaan pembelajaran pengayaan dapat dilakukan antara lain melalui:
1) Belajar Kelompok. Sekelompok peserta didik yang memiliki minat tertentu diberikan pembelajaran bersama pada jam-jam pelajaran sekolah biasa, sambil menunggu teman-temannya yang mengikuti pembelajaran remedial karena belum mencapai ketuntasan.
2) Belajar mandiri. Secara mandiri peserta didik belajar mengenai sesuatu yang diminati.
3) Pembelajaran berbasis tema. Memadukan kurikulum di bawah tema besar sehingga peserta didik dapat mempelajari hubungan antara berbagai disiplin ilmu.
4) Pemadatan kurikulum. Pemberian pembelajaran hanya untuk kompetensi/materi yang belum diketahui peserta didik. Dengan demikian tersedia waktu bagi peserta didik untuk memperoleh kompetensi/materi baru, atau bekerja dalam proyek secara mandiri sesuai dengan kapasitas maupun kapabilitas masing-masing.
Perlu diperhatikan bahwa penyelenggaraan pembelajaran pengayaan ini terutama terkait dengan kegiatan tatap muka untuk jam-jam pelajaran sekolah biasa. Namun demikian kegiatan pembelajaran pengayaan dapat pula dikaitkan dengan kegiatan tugas terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Sekolah dapat juga memfasilitasi peserta didik dengan kelebihan kecerdasan dalam bentuk kegiatan pengembangan diri dengan spesifikasi pengayaan kompetensi tertentu, misalnya untuk bidang sains. Pembelajaran seperti ini diselenggarakan untuk membantu peserta didik mempersiapkan diri mengikuti kompetisi tingkat nasional maupun internasional seperti olimpiade internasional fisika, kimia dan biologi.
8. Penilaian Pembelajaran Pengayaan
Sebagai bagian integral dari kegiatan pembelajaran, kegiatan pengayaan tidak lepas kaitannya dengan penilaian. Penilaian hasil belajar kegiatan pengayaan, tentu tidak sama dengan kegiatan pembelajaran biasa, tetapi cukup dalam bentuk portofolio, dan harus dihargai sebagai nilai tambah (lebih) dari peserta didik yang normal.
Artikel nya bagus yah terbaik lah untuk kamu
BalasHapusUntuk materi Yang di paparkan sudah bagus tapi penulisan perlu di perbaiki sesuai dengan kaidah2 B.indonesia
HapusArtinya sudah bagus dan ditunggu artikel berikutnya
BalasHapus