Pembelajaran Langsuang dan Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Pembelajaran Langsung dan model pembelajaran berbasis masalah
MODEL-MODEL BELAJAR DAN RUMPUN MODEL MENGAJAR
A. Pengertian Model Pembelajaran Langsung
Model pembelajaran langsung adalah suatu model pengajaran yang terdiri dari penjelasan guru mengenai konsep atau keterampilan baru, melibatkan guru bekerja dengan siswa secara individual, atau dalam kelompok-kelompok kecil (Watanabe, McLaughlin, Weber, & Shank, 2013) berfokus pada mencapai target pembelajaran dengan memberikan pelatihan keterampilan yang erat kaitannya dengan target. Model pembelajaran langsung adalah model yang sistematis. Gardison dan Vaugan menemukan bahwa instruksi langsung memberikan struktur disiplin dan dapat menyebabkan pembelajaran yang bermakna dan sistematis pengalaman (Pham, Huang, 2011).
Model ini mengusulkan empat kategori peristiwa intruksi ; (a) presentasi, (b) praktek, (c) penilaian dan evaluasi, (d) monitoring dan umpan balik (Huit, Monetti & Hummel, 2009). Instruksi langsung memiliki banyak figur dengan tugas analitik, dan pendekatan perilaku yang biasa digunakan dalam pendidikan khusus, yaitu penggunaan analisis tugas, keyakinan dalam utilitas bahan kurikulum terstruktur, perhatian dengan ulangan, pemodelan dan membentuk respon yang benar, dan periodik penilaian kerja siswa (Ahmed, 2007).
Model pembelajaran langsung terdiri dari lima aktivitas yaitu :
1. Orientasi ; diawali dengan menentukan materi pembelajaran, meninjau pelajaran sebelumnya, menentukan tujuan pembelajaran dan menentukan prosedur.
2. Presentasi ; diawali dengan menjelaskan konsep atau keterampilan baru, menyajikan representasi visual atas tuga yang diberikan dan memastikan pemahaman.
3. Praktik yang terstruktur ; dimulai dengan menuntun kelompo siswa dengan contoh praktik beberapa langkah, lalu siswa merespon dengan pertanyaan dan diakhiri dengan memberikan koreksi terhadap kesalahan lalu memperkuat praktik yang benar.
4. Praktik dibawah bimbingan guru ; dimana siswa berpraktik secara semi-independen, dilanjutkan dengan menggilir siswa untuk melakukan praktik dan mengamati praktik, lalu guru memberikan tanggapan balik berupa petunjuk.
5. Praktik mandiri ; siswa melakukan praktik secara mandiri di kelas atau dirumah, guru menunda respons balik dan memberikannya di akhir rangkaian praktik dan praktik mandiri dilakukan beberapa kali dalam waktu periode yang lama.
Model pembelajaran langsung meurut Arends sebagaimana dikutip irianto adalah salah satu pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah. Pembelajaran langsung tidak sama dengan metode ceramah, tetapi ceramah dan resitasi (mengecek pemahaman dengan tanya jawab) berhubungan erat dengan model pembelajaran langsung. Guru berperan sebagai penyampai informasi, dan dalam hal ini guru seyogyanya menggunakan berbagai media yang sesuai.
Ada tiga ciri-ciri model pembelajaran langsung, yaitu :
1. Adanya tujuan pembelajaran dan prosedur penilaian hasil belajar
2. Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran
3. Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang mendukung berlangsung dan berhasilnya pengajaran.
B. Tujuan Pembelajaran Langsung
Sebagian besar guru ialah membantu siswa memperoleh pengetahuan prosedural, yaitu pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu. Guru juga membantu siswa untuk memahami pengetahuan deklaratif, yaitu pengetahuan tentang sesuatu (dapait diungkapkan dengan kata-kata). Model pembelajaran langsung dirancang khusus untuk mengambangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah.
Dalam banyak hal, penguasaan terhadap pengetahuan dasar prosedural dan deklaratif terdiri atas kegiatan khusus dan kegiatan berurutan.
C. Tahapan Model Pembelajaran Langsung
Pembelajaran langsung memiliki pola urutan kegiatan yang sistematis untuk mengetahui kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan oleh guru atau peserta didik, agar pembelajaran langsung tersebut terlaksana dengan baik. Menurut Kardi & Nur dalam Trianto, ada lima tahap pembelajaran langsung yaitu :
1. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan siswa, dalam hal ini peran guru adalah menjelaskan tujuan,materi prasyarat, memotivasi siswa, dan mempersiapkan siswa
2. Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan, dalam hal ini peran guru adalah mendemonstrasikan keterampilan atau menyajikan informasi tahap demi tahap
3. Membimbing pelatihan, peran guru adalah memberi latihan terbimbing
4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik, guru berperan mengecek kemampuan siswa dan memberikan umpan balik
5. Memberikan latihan dan penerapan konsep, dalam hal ini guru berperan mempersiapkan latihan untuk siswa dengan menerapkan konsep yang dipelajari pada kehidupan sehari-hari.
Adapun tahapan atau sintaks model pembelajaran langsung menurut Bruce dan Weil (1996), sebagai berikut :
1. Orientasi
Sebelum menyajikan dan menjelaskan materi baru, akan sangat menolong siswa jika guru memberikan kerangka pelajaran dan orientasi terhadap materi yang akan disampaikan. Bentuk-bentuk orientasi dapat berupa : (a) kegiatan pendahuluan untuk mengetahui yang relevan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa, (b) mendiskusikan atau menginformasikan tujuan pembelajaran, (c) memberikan penjelasan/arahan mengenai kegiatan yang akan dilakukan, (d) menginformasikan materi/konsep yang akan digunakan dan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran, dan (e) menginformasikan kerangka pembelajaran.
2. Presentasi
Pada fase ini guru dapat menyajikan materi pelajaran baik berupa konsep maupun keterampilan. Penyajian materi dapat berupa : (a) penyajian materi dalam langkah kecil sehingga materi dapat dikuasai siswa dalam waktu relatif pendek, (b) pemberian contoh-contoh konsep, (c) pemodelan atau peragaan keterampilan dengan cara demonstrasi atau penjelasan langkah-langkah keja tarhadap tugas, dan (d) menjelaskan ulang hal-hal yang sulit.
3. Latihan Terstruktur
Pada fase ini guru memandu siswa untuk melakukan latihan-latihan. Peran guru yang penting dalam fase ini adalah memberikan umpan balik terhadap respon siswa dan memberikan penguatan terhadap respon siswa yang benar dan mengoreksi respon siswa yang salah.
4. Latihan Terbimbing
Pada fase ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih konsep atau keterampilan. Latihan terbimbing ini baik juga digunakan oleh guru untuk mengases/menilai kemampuan siswa untuk melakukan tugasnya. Pada fase ini peran guru adalah memonitor atau memberikan bimbingan jika diperlukan.
5. Latihan Mandiri
Pada fase ini siswa melakukan kegiatan latihan secara mandiri. Fase ini dapat dilalui siswa jika telah menguasai tahap-tahap pengerjaan tugas 85-90% dalam fase bimbingan latihan.
D. Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Pembelajaran berbasis masalah (PBM) atau Problem Based Learning(PBL) adalah suatu model pembelajaran yang didasarkan pada prinsip menggunakan masalah sebagai titik awal akuisisi dan integritas pengetahuan baru. PBL adalah salah satu model pembelaran yang berpusat pada peserta didik dengan cara menghadapkan para peserta didik tersebut dengan berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Dengan model pembelajaran ini, peserta didik sejak awal sudah dihadapkan kepada berbagai masalah kehidupan yang mungkin akan ditemuinya kelak pada saat mereka sudah lulus dari bangku sekolah.
Problem Based Learning (PBL) dapat dimaknai sebagai metode pendidikan yang mendorong siswa untuk mengenal cara belajar dan bekerjasama dalam kelompok untuk mencari penyelesaian masalah-masalah di dunia nyata. Model pembelajaran PBL merupakan cara penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis.
Menurut Barrow (dalam Huda, 2013, hlm 271) mendefinisikanProblem Based Learning (PBL) sebagai pembelajaran yang diperoleh melalui proses menuju pemahaman atau resolusi suatu masalah. Sementara itu menurut Surjana (2014, hlm 134) PBL adalah suatu pembelajaran yang menyuguhkan berbagai situasi bermasalah yang autentik dan berfungsi bagi siswa, sehingga masalah tersebut dapat dijadikan batu loncatan untuk melakukan investigasi dan penelitian. Maka dari itu PBL merupakan sebuah pembelajaran yang menuntut siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuan mereka sendiri melalui permasalahan.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa PBL merupakan suatu pembelajaran yang menekankan pada pemberian masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari yang harus dipecahkan oleh siswa melalui investigasi mandiri untuk mengasah kemampuan berpikir kreatif siswa dalam pemecahan masalah agar terbentuk solusi dari permasalahan tersebut sebagai pengetahuan dan konsep yang esensial dari pembelajaran.
E. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Berbasis Masalah
PBL adalah salah satu model pembelaran yang berpusat pada peserta didik dengan cara menghadapkan para peserta didik tersebut dengan berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Dengan model pembelajaran ini, peserta didik sejak awal sudah dihadapkan kepada berbagai masalah kehidupan yang mungkin akan ditemuinya kelak pada saat mereka sudah lulus dari bangku sekolah.
Berikut adalah langkah-langkah PBL menurut Holbrook dan Arends (dalam Sujana, 2014, hlm 136) yang sudah sedikit dimodifikasi :
1. Fase 1 ; memberikan orientasi mengenai permasalahn kepada siswa. Adapun prilaku guru pada fase ini adalah membahas tujuan pembelajaran, mendeskripsikan berbagai kebutuhan penting, dan memotivasi siswa agar dapat terlibat dalam kegiatan mengatasi masalah.
2. Fase 2 ; mengorganisasikan siswa agar dapat melakukan penelitian. Prilaku guru pada fase ini adalah membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas belajar yang terkait dengan permasalahan yang dihadapi.
3. Fase 3 ; membantu siswa melakukan investigasi secara mandiri dan kelompok. Fase ini prilaku guru adalah mendorong siswa untuk mendapatkan informasi yang tepat, melaksanakan eksperimen, serta mencari penjelasan dan solusi.
4. Fase 4 ; mengembangkan dan mempresentasikan artefak dan exhibit. Pada fase ini prilaku guru adalah membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan artefak-artefak yang tepat seperti laporan, rekaman video, serta model-model. Membantu siswa untuk menyampaikannya kepada orang lain.
5. Fase 5 ; menganalisis dan mengevaluasi proses-proses dalam mengatasi masalah. Pada fase ini guru membantu siswaa untuk melakukan refleksi terhadap investigasinya serta proses yang mereka gunakan.
Secara umum langkah-langkah model pembalajaran ini adalah :
1. Menyadari masalah ; Dimulai dengan kesadaran akan masalah yang harus dipecahkan ; Kemampuan yang harus dicapai peserta didik adalah dapat menentukan atau menangkap kesenjangan yang dirasakan.
2. Merumuskan masalah ; Rumusan masalah berhubungan dengan kejelasan dan kesamaan persepsi tentang masalah dan berkaitan dengan data-data yang harus dikumpulkan ; Diharapkan peserta didik dapat menentukan prioritas masalah.
3. Merumuskan hipotesis. Peserta didik diharapkan dapat menentukan sebab akibat dari masalah yang ingin diselesaikan dan dapat menentukan berbagai kemungkinan penyelesaian masalah.
4. Mengumpulkan data ; Peserta didik didorong untuk mengumpulkan data yang relevan. Kemampuan yang diharapkan adalah peserta didik dapat mengumpulkan data dan memetakan serta menyajikan dalam berbagai tampilan sehingga sudah dipahami.
5. Menguji hipotesis ; Peserta didik diharapkan memiliki kecakapan menelaah dan membahas untuk melihat hubungan dengan masalah yang diuji.
6. Menentukan pilihan penyelesaian ; Kecakapan memilih alternatif penyelesaian yang memungkinkan dapat dilakukan serta dapat memperhitungkan kemungkinan yang dapat terjadi sehubungan dengan alternatif yang dipilihnya.
DAFTAR RUJUKAN
Moch, dkk. 2016. Meningkatklan Hasil Belajar Siswa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Direct Instruktion. Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran. Vol. 1 No. 1.
Abri Harahap Muhammad, dkk. 2017.Penerapan Strategi Pembelajaran Lamgsung Dengan Metode Drill Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Dan Keterampilan Pelaksanaan Ibadah Pokok Bahasan Pengurusan Jenazah Di MTSN Al-Ma’sum Rantau Prapat Labuhan Batu. Jurnal Edu Religia. Vol 1. No 3
makasih sdh berbagi kk
BalasHapusArtikelnya sudah bagus kak makasih sudah berbagi
BalasHapus