HAKIKAT MEDIA PEMBELAJARAN
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
“Hakikat Media Pembelajaran “
DISUSUN OLEH :
Nanda Kurnia Putri (1820186)
DOSEN PEMBIMBING
Yessi Rifmasari, M. Pd.
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA
PADANG
2020
A. Pendahuluan
Boomingnya hasil-hasil tekhnologi informasi dan komunikasi dalam beberapa tahun terakhir ini telah banyak membantu para pendidik dalam penyediaan media pembelajaran (instructional media) dan sumber belajar (learning resource) serta alat peraga (teaching aid). Setiap orang dapat dengan mudah mengakses berbagai informasi kapan saja dan dimana saja, sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Di bidang pendidikan, para mahasiswa, siswa dan peserta pelatihan dengan mudah bisa memperoleh materi pembelajaran yang berkaitan dengan tofik yang dipelajari di sekolah atau menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Dewasa ini media pembelajaran dan sumber belajar tidak terbatas hanya pada buku-buku diperpustakaan dan disekolah-sekolah.
Pada pembahasan ini akan dibahas tentang hakekat media pembelajaran. Mencakup pengertian dan cirri umum media pembelajaran, pengembangan media pembelajaran, fungsi media pembelajaran, jenis-jenis media pembelajaran, prinsip-prinsip pemilihan media pebelajaran dan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pemilihan media pembelajaran. Dan dibahas pula media dalam persepektif sejarah.
B. Pembahasan Materi
1. Pengertian Hakikat Media Pembelajaran dan Ciri Umum Media pembelajaran
Sebelum membahas lebih lanjut tentang pengertian media pembelajaran, ada baiknya terlebih dahulu dibahas tentang makna masing-masing kata yang membentuknya. Media Pembelajaran terdiri dari dua kata, yaitu media dan pembelajaran. Dengan memahami kedua kata tersebut, maka akan dapat membantu kita dalam memberikan pengertian tentang istilah media pembelajaran.
Secara etimologi, media berasal dari bahasa latin, merupakan bentuk kata jamak dari kata “medium” yang berarti “tengah, perantara, atau pengantar” istilah perantara atau pengantar ini, menurut Bovee (1977), digunakan karena fungsi media sebagai perantara atau pengantar suatu pesan dari si pengirim (sender) kepada si penerima (receiver) pesan. Dari sini, berkembang beberapa definisi terminologis mengenai media menurut pendapat para ahli media dan pendidikan.
The Association Communication and Technology (AECH, 1977) menyatakan bahwa media adalah apa saja yang digunakan untuk menyalurkan informasi. Sementara, menurut Suparman (1997), media merupakan alat yang digunakan untuk menyalurkan pesan dan informasi dari pengirim pesan kepada penerima pesan. Selanjutnya McLuhan (Midun, 2008) memaknai media sebagai saluran informasi.
Media merupakan komponen yang sangat penting dalam suatu proses komunikasi. Menurut Baarlo dalam Miarso (1984), proses komunikasi melibatkan paling kurang tiga komponen utama, yakni pengirim atau sumber pesan (source), perantara (media), dan penerima (receiver). Sedangkan, menurut Widodo dan Jasmadi (2009) ada 4 komponen yang harus ada dalam proses komunikassi, yakni pemberi informasi, informasi itu sendiri, penerima informasi dan media. Keempat komponen dalam proses penyaluran tersebut, oleh Miarso (1984) digambarkan dengan Model S-M-C-R (source, media, channel, reserver). Pesan yang disalurkan melalui media oleh sumber/pengirim pesan akan dapat dikomunikasikan kepada sasaran penerima pesan/ receiver apabila terdapat daerah lingkup pengalaman (area of experience) yang sama antara sumber pesan (source) dan penerima pesan (receiver).
Dari beberapa pengertian di atas dapat dikatakan bahwa media memiliki peran yang sangat penting, yaitu suatu sarana atau perangkat yang berfungsi sebagai perantara atau saluran dalam suatu proses komunikasi antara komunikator dan komunikan. Menurut Kempt dalam Midun(2009), pesan yang masih berada pada pikiran (mind) pembicara tidak akan sampai ke penerima pesan apabila tidak dibantu dengan sebuah media sebagai perantara.
Selanjutnya, Kempt menyatakan bahwa selain media, pesan akan sampai kepada si penerima pesan apabila terjadi proses pengkodean (encoding) pesan tersebut. Jadi, sebelum sampai kepada penerima, pesan tersebut harus dikodekan terlebih dahulu melalui simbol verbal maupun nonverbal. Setelah pesan itu diartikan oleh penerima pesan, barulah penerima pean memberikan respon (umpan balik) kepada pengirim pesan. Di sinilah terjadinya komunikasi efektif.
Kata pembelajaran merupakan terjemahan dari istilah bahasa Inggris yaitu “instruction”. Instruction diartikan sebagai proses interaktif antara guru dan siswa yang berlangsung secara dinamis. Ini berbeda dengan istilah “teaching” yang berarti mengajar. Teaching memiliki konotasi proses belajar dan mengajar yang berlangsung satu arah dari guru ke siswa. Dalam hal ini, hanya guru yang berperan aktif mengajar, sedangkan siswa bersifat pasif.
Penggunaan istilah pembelajaran sebagai pengganti istilah lama ”proses belajar mengajar (PMB)” tidak hanya sekedar merubah istilah melainkan merubah peran guru dalam proses pembelajaran. Guru tidak hanya “mengajar” melainkan “membelajarkan” peserta didik agar mau belajar. Tugas guru dalam proses pembelajaran, di samping menyampaikan informasi, ia juga bertugas mendiagnosis kesulitan belajar siswa, menyeleksi materi ajar, mensupervisi kegiatan belajar, menstimulasi kegiatan belajar siswa, memberikan bimbingan belajar, mengembangkan dan menggunakan strategi dan metode (Saputro, 1996). Selain itu, guru juga mengembangkan dan menggunakan berbagai jenis media dan sumber belajar, dan memberi motivasi agar siswa mau belajar. Lebih dari itu, menurut Midun (2008), guru juga harus berperan dalam debat dan diskusi sebagai mediator, menyelenggarakan field trip (seperti tamasya/kemping), stimulasi dan sebagainya.
Degeng (1989) menyatakan bahwa pembelajaran pada dasarnya merupak upaya membelajarkan pembelajar (anak, siswa, peserta didik). Pengertian lain tentang pembelajaran adalah upaya yang dilakukan oleh pembelajar (guru, instruktur) dengan tujuan untuk membantu siswa agar bisa belajar dengan mudah (setyosari & sulton (2003). Usaha ini dijalankan dalam sebuah proses yang sistematis yang dijalankan dalam sebuah sistem dan setiap komponen dalam sistem itu memiliki arti penting untuk keberhasilan belajar siswa. Dalam proses sistematis tersebut, komunikasi merupakan unsur yang mutlak diperlukan. Dengan itu proses pembelajaran sesungguhnya merupakan suatu proses komunikasi (Panji & Sihkabuden, 2005). Adapun komponen penting yang menentukan efektivitas proses pembelajaran ialah guru, siswa, materi, metode, media, dan situasi.
Menurut Munadi (2008), proses komunikasi dalam pendidikan terjadi karena ada rencana dan tujuan yang diinginkan. Komunikasi antar pendidik dan peserta didik dalam pembelajaran diefektifkan dengan menggunakan media (channel). Bahasa adalah media yang membantu siswa untuk mendapatkan mengerti gagasan atau ide guru (Munadi, 2008). Konsep komunikasi dalam pembelajaran mengacu pada keseluruhan proses komunikasi informasi atau pesan dari sumber (guru, materi, atau bahan) kepada penerima (murid) melalui media atau jaringan.
Pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat membawa informasi dan pengetahuan dalam interaksi yang berlangsung antara pendidik dengan peserta didik. Disini media pembelajaran berperan untuk menyampaikan pesan-pesan pembelajaran.
Setelah memahami pengertian kata “media” dan “pembelajaran” secara terpisah, maka dengan menggabungkan kedua istilah tersebut pengertian “media pembelajaran” dengan mudah dapat dipahami dengan mudah, yaitu apa saja yang digunakan sebagai media dalam pembelajaran. Secara terminologis, ada berbagai definisi yang diberikan tentang media pembelajaran. Gagne (1970) mendefinisikan bahwa bahwa media adalah berbagai komponen pada lingkungan belajar yang membantu pembelajar untuk belajar: Briggs (1977)mendefinisikan media sebagai sarana fisik yang digunakan untuk mengirim pesan kepada peserta didik sehingga merangsang mereka untuk belajar. Pendapat Schramm tentang media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan (informasi)nyang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran (Widodo dan Jasmadi, 2009).
Media pembelajaran, menurut Gerlach & Ely (1971), memiliki cakupan yang sangat luas, yaitu termasuk manusia, materi atau kajian yang membangun suatu kondisi yang membuat peserta didik mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Media pembelajaran mencakup semua sumber yang diperlukan untuk melakukan komunikasi dalam pembelajaran, sehingga bentuknya bisa berupa perangkat keras (Hardware), seperti komputer, televisi, projektor, dan perangkat lunak (software) yang digunakan pada perangkat keras itu. Dalam hal ini, pendidik juga bisa termasuk salah satu bentuk media pembelajaran sehingga menjadi kajian strategi penyampaian pembelajaran (Degeng, 2001).jadi, media pembelajaran tidak hanya berupa benda mati, tetapi juga benda hidup, seperti manusia. Sebagai benda hidup, seperti manusia. Sebagai benda hidup, media dapat juga merupakan pesan yang dapat dipelajari.
Berdasarkan pengertian di atas, media pembelajaran dapat dipahami sebagai ‘segala sesuatu yang dapat menyambpaikan atau menyalurkan pesan dari suatu sumber secara terncana, sehingga terjadi lingkungan belajar yang kondusif di mana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efisien dan efektif.
Adapun cirri-ciri umum media pembelajran yaitu:
a. Media pembelajaran memiliki pengertian fisik dikenal dengan istilah perangkat keras (hardware) yaitu suatu benda yang dapat dilihat, didengar di raba dengan panca indra.
b. Media pembelajaran memiliki pengertian non fisik dikenal dengan istilah perangkat lunak (software) yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi yang akan disampaikan kepada siswa.
c. Penekanan media pembalajaran terdapat pada audio dan visual.
d. Media pembelajaran memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik didalam maupun diluar kelas.
e. Media pembelajaran digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dengan siswa dalam proses pembelajaran.
f. Media pembelajaran dapat digunakan secara masal atau perorangan. Brown (1980) dalam Rusman (2009) menggaris bawahi bahwa media yang digunakan guru atau siswa dengan baik dapat mempengaruhi efektifitas pembelajaran.
Peranan media tidak akan terlihat apabila penggunaannya tidak sejalan dengan isi dan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Secanggih apapun media tidak dapat dikatan menunjang pembelajaran apabila keberadaannya menyimpang dari isi dan tujuan pembelajarannya. Karena itu yang perlu dirangcang dengan baik bukan hanya pembuatan media itu sendiri melainkan pemanfaatan serta cara penggunaan media itu pun juga perlu diatur dan dirancang sebaik-baiknya sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran.
2. Pengembangan Media Pembelajaran
Proses perkembangan media saat ini, sangat cepat, pada mulanya media dianggap sebagai alat bantu mengajar guru (teaching aids). Alat bantu yang dipakai adalah alat bantu visual, yaitu gambar, model, obyek dan alat-alat lain yang dapat memberikan pengalaman konkret, motivasi belajar, serta mempertinggi daya serap dan retensi belajar siswa.
Akhir tahun 1950 teori komunkasi mulai mempengaruhi penggunaan alat bantu audio visual, sehingga selain sebagai alat bantu, media juga berfungsi sebagai penyalur pesann atau informasi belajar. Sejak saat itu, alat audio visual bukan hanya dipandang sebagai alat bantu pengajar saja, melainkan juga sebagai alat penyalur pesan atau media. teori ini sangat pendting dalam penggunaan media untuk kegiatan program pembelajaran.
3. Fungsi Media Pembelajaran
Hasil penelitian menunjukan bahwa proses pembelajaran akan lebih efektif dan mudah bila dibantu dengan sarana visual, dimana 11% dari yang dipelajari terjadi lewat indera pendengaran, sedangkan 83% lewat indera penglihatan. Di samping itu dikemukakan bahwa kita hanya dapat mengingat 20% dari apa yang kita dengar, namun dapat mengingat 50% dari apa yang dilihat dan didengar.
Ada beberapa fungsi penggunaan media dalam proses pembelajaran, diataranya:
1. Menarik perhatian siswa
2. Membantu untuk mempercepat pemahaman dalam proses pembelajaran
3. Memperjelas penyajian pesan agar tidak bersifat perbalistis.
4. Mengatasi keterbatasan ruang
5. Pembelajaran lebih komunikatif dan produktif
6. Waktu pembelajaran bisa dikondisikan
7. Menghilangkan kebosenan siswa dalam belajar
8. Meningkatkan motivasi siswa
9. Melayani gaya belajar siswa yang beranekaragam
10. Meningkatkan kadar keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
4. Jenis-jenis media pembelajaran
Cukup banyak jenis media yang telah dikenal dewasa ini dari yang sederhana sampai yang berteknologi tinggi dilihat dari jenisnya media dibagi kedalam media audio, visual, dan media audio visual. Media audio adalah media yang hanya mengandalkan media suara saja, seperti radio, kaset recorder, piringan hitam. Media visual adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan penglihatan saja. Media visual ini ada yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti flm skrif (flm rangkai) foto, gambar, atau lukisan, cetakan. Adapula media visual yang menampilkan gambar atau imbol yang bergerak seperti film bisu, film kartun. Sedangkan media audio visual merupakan media yang mempunyai unsur suara dan unsure gambar. Jenis media ini memounyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan yang kedua.media audio visual terdiri atas audio visual diam, yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film, bingkai suara, (sound slides), bingkai rangkai suara.
Jika dilihat dari bahan buatannya media dibagi atas pertama, media sederhana, yakni media yang bahan dasarnya mudah diperoleh dengan harga murah, cara pembuatannya mudah dan penggunaannya tidak sulit. Kedua, media kompleks yakni media dengan bahan yng sulit di dapat, alat tidak dapat dibuat dan harga relatif mahal.
5. Prinsif-prinsif pemilihan media pembelajaran
Saat memilih dan menggunakan media pembelajaran, hendaknya guru memperhatikan sejumlah prinsip-prinsip tertentu agar penggunaan media dapat mencapai hasil yang baik. Prinsip-prinsip dimaksud sebagaimana yang dikemukakan Nana Sudjana (1991), berikut ini:
1. Menentukan jenis media dengan tepat. Artinya, sebaiknya guru memilih terlebih dahulu media manakah yang sesuai dengan tujuan dan materi pembelajaran yang akan diajarkan.
2. Menetapkan atau mempertimbangkan subjek dengan tepat. Artinya, perlu diperhitungkan apakah penggunaan media itu sesuai dengan tingkat kematangan atau kemampuan siswa.
3. Menyajikan media dengan tepat. Artinya teknik dan metode penggunaan media dalam pengajaran harus disesuaikan dengan tujuan, bahan, metode waktu dan sarana.
4. Menetapkan atau memperlihatkan media pada waktu, tempat dan situasi yang tepat. Artinya, kapan dan dalam situasi mana pada waktu mengajar media digunakan. Tentu tidak setiap saat menggunakan media pengajaran tanpa kepentingan yang jelas.
6. Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam media pengajaran
Agar media pembelajaran yang dipilih itu tepat dan sesuai prinsip-prinsip pemilihan, perlu juga memperhatikan faktor-faktor berikut ini:
1. Objektivitas (keperluan sistem belajar)
2. Program pembelajaran (harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku) baik menyangkut isi, struktur maupun kedalamannya.
3. Sasaran program (dilihat kesesuaiannya dengan tingkat perkembangan siswa baik dari segi bahasa, simbol-simbol yang digunakan, cara dan kecepatan penyajian maupun waktu penggunaannya).
4. Situasi dan kondisi
5. Kualitas teknik, barangkali ada rekaman suara atau gambar-gambar dan alat-alat lainnya yang perlu penyempurnaan sebelum digunakan.
7. Media Pembelajaran dalam Perspektif Sejarah (Hakikat)
Dari perspektif sejarah (hakikat), penggunaan media sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran sudah melewati perjalanan cukup panjang. Menurut Midun (2009), perkembangan konsep media dalam pendidikan diawali dengan munculnya aliran realisme dalam pendidikan yang dipelopori oleh Johan Amos Camenius pada abad ke-17, melalui sebuah tulisan dalam bukunya yang berjudul Orbis Pictus (Dunia dalam Gambar). Dala, pengamatan Comenius, anak-anak Eropa yang tidak berbahasa Latin (Jerman, Francis, Rusia, dsb)., mengalami kesulitan dalam mempelajari bahasa Latin. Bagi mereka bahasa Latin sangat abstrak dan sulit dimengerti, untuk itu diperlukan visualisasi agar lebih mudah dipahami. Dalam buku Orbis Pictus, Comenius memberikan gambar bendanya untuk setiap kata dan diletakan di samping kata tersebut. Dengan demikian bahasa Latin yang dipelajari oleh anak-anak menjadi lebih nyata/konkret dan mudah diingat. Aliran realisme ini mendorong munculnya aliran visualisasi pendidikan atau pembelajaran yang intinya si pembelajar (guru) harus menggunakan gambar-gambar untuk memperjelas apa yang di ajarkannya kepada peserta didik.
Selanjutnya, menurut Midun (2009), dengan ditemukannya radio pada tahun 1930-an, muncul gerakan “Audiovisual Education” yang menekankan pentingnya penggunaan audio visual dalam pembelajaran. Dari saat itu, mulai dikenal AVA (Audiovisual Aids), yaitu alat peraga atau media yang menyajikan materi dalam bentuk visual dan audio untuk memperjelas apa yang disampaikan guru kepada peserta didik. Jadi peranan AVA di sini adalah untuk membantu guru menyampaikan pelajaran kepada peserta didik agar pembelajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkret, karena itu juga disebut “teaching Aids” (alat bantu guru dalam mengajar). Alat bantu guru dalam konsepsi pengajaran visual adalah setiap gambar, model, benda atau alat yang dapat memberikan pengalaman visual yang nyata kepada peserta didik.
Selanjutnya, pada tahun 1940-an konsep pengajaran visual tersebut berkembang menjadi pembelajaran audiovisual (audiovisual intruction atau audiovisua leducation). Dan sekitar tahun 1945 timbul variasi nama seperti “audio9visual material”, “audio visual methods”, “audiovisual devices” atau penggunaan berbagai nama ini pada intinya adalah guru menggunakan berbagai alat atau bahan, metode dalam menyampaikan ide, gagasan dan pengalaman kepada peserta didik dalam pembelajaran (Midun, 2009).
Perkembangan berikut terjadi pada tahun 1950-an, yakni munculnya gerakan yang disebut “audivisual comunication”, memandang pendidikan sebagai suatu proses komunikasi. Komunikasi ditekankan dalam pembelajaran, penekanan tidak lagi pada benda atau bahan berupa bahan audivisual untuk pembelajaran, tetapi dipusatkan pada keseluruhan proses komunikasi informasi atau pesan dari sumber (guru, materi, bahan) kepada penerima. Gerakan komunikasi audivisual memberikan penekanan kepada proses komunikasi yang lengkap dengan menggunakan sistem pembelajaran yang utuh, jadi konsep audivisual berusaha mengaflikasikan konsep komunikasi, sistem dan desain pembelajaran dan teori belajar dalam kegiatan pembelajaran. Pada perkembangan lebih lanjut, tahun 1952-an munculnya konsep “instructional materials” yang secara konspsional tidak banyak berbeda dengan konsep sebelumnya, karena pada intinya konsepsi ini merupakan aplikasi proses komunikasi dan sistem dalam merencanakan dan mengembangkan dalam materi pembelajaran.
Puncak dari perkembangan media terjadi pada tahun 1990-an dengan munculnya konsep “educational technologi” atau “intructional technology”, yang mana proses pembelajaran berbasis teknologi komputer. Kini “educational technology” atau ditangani oleh sebuah lembaga internasional yang bernama, Assossation of Educational Comunication and technology (AECT).
Media pembelajaran tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu mengajar, melainkan juga sebagai sumber belajar bagi peserta didik. Untuk lebih jelas, Midun (2009) memberikan ulasan sebagai berikut:
a) Fungsi AVA (audivisual aids) berfungsi untuk memberikan pengalaman yang konkret kepada peserta didik. Sama waktu anak-anak Eropa abad ke-17 mempelajari bahasa Latin yang abstrak sifatnya, maka pada saat sekarang pun, anak-anak juga mengalami hal yang sama bila guru hanya bermain ddengan kata-kata saja (lambang verbal) dalam menyampaikan materi pembelajaran. Edger Dale dalam kerucut pengalamannya mengatakan bahwa lambang verbal adalah “most abstact symbol”. Mengapa/ karena lambang verbal (bahasa) dibuat dengan sengaja oleh sekelompok manusia. Bila kita telah ikut menyetujui lambang tersebut, maka kita dapat mengerti apa yang dimaksudkan betapapun sulitnya. Misalnya kata “mandi” atau “makan”, dsb. Orang Inggris yang belumpernah ikut menyetujuinya, tentu tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan kata makan dan mandi tersebut. Bahasa (lambang verbal) pada dasarnya bersifat abstrak, maka guru perlu menggunakan alat bantu berupa gambar, model, benda sebenarnya dalam menyajikan suatu pembelajaran tertentu. Peserta didik akan dapat memahami/mengerti apa yang disampaikan oleh guru.
b) Media sebagai ssarana komunikasi dan interaksi pembelajaran. Di atas telah disinggung tentang makna media. Media berasal dari kata lain. “medium” yang berarti di antara (in between). Jadi media berada di tengah (di antara) dua hal, yaitu yang menulis/ membuat media (source) dan orang yang menerima (membac, mendengar melihat) media (dalam komunikasi di sebut receiver, penerima) media yang dibuat (ditulis dalam bentuk modul , buku, film, slide, OHP, dsb) memuat pesan (messege) yang akan disampaikamn kepada penerima. Dalam pembicara tatap muka (face to face comunication), pembicara berhadapan langsung dalam penyampaian pesannya kepada penerima (receiverlaudience), tanpa adanya perantara (medium) yang digunakan. Dengan meletakan pesan yang hendak disampaikan ke dalam suatu format media tertentu (buku, film slide dsb) yang dinamakan kegiatan “ecoding”, maka komunikasi tidak perlu berhadapan langsung dengan pihak penerima. Komunikasi masih tetap berlangsung melalui media yang dihadapkan kepadanya. Sehingga dapat memahami atau mengerti isi pesan yang telah disampaikan yang terdapat dalam format media tersebut. Inilah fungsi kedua media pembelajaran, yaitu sebagai sarana komunikasi dan interaksi antara peserta didik dengan media tersebut, dan dengan media tersebut merupakan sumber belajar yang penting.
C. Contoh Aplikasi
Contoh sederhana, guru akan mengajar masalah kepadatan penduduk sbuah kota. Dengan menggunakan media pembelajaran antara lain gambar atau foto suatu kota yang padat penduduknya dengan segala permasalahannya. Gambar atau foto tersebut akan lebih menarik bagi siswa dibandingkan dengan cerita guru tentang padatnya kota tersebut. Kemudian guru menyajikan sutau grafik pertumbuhan jumlah penduduk kota dari tahun ketahun, sehingga jelas betapa jelasnya pertumbuhan penduduk kota tersebut tayangan grafik dapat memperjelas pemahaman siswa terhadap pertumbuhan penduduk dari tahun ketahun. Parea siswa dapat melakukan analisis data penduduk, sebab-sebab partumbuhan penduduk, melakukan proyeksi jumlah penduduk tahun berikutnya, dan asfek lain dari grafik tersebut. Dan juga dapat membuat grafik penduduk dan member interpretasi. Ini berarti kegiatan belajar siswa lebih banyak dan lebih mendalam.
D. Kesimpulan
Secara etimologi, media berasal dari bahasa latin, merupakan bentuk kata jamak dari kata “medium” yang berarti “tengah, perantara, atau pengantar” istilah perantara atau pengantar ini, menurut Bovee (1977), digunakan karena fungsi media sebagai perantara atau pengantar suatu pesan dari si pengirim (sender) kepada si penerima (receiver) pesan. Dari sini, berkembang beberapa definisi terminologis mengenai media menurut pendapat para ahli media dan pendidikan.
Guru merupakan faktor yang turut mempengaruhi proses pembelajaran hendaknya mampu menggunakan media pembelajaran yang tersedia dengan memperhatikan beberapa faktor tersebut di atas. Maka setiap guru atau pendidik juga dituntut untuk kreatif dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran juga harus mempertimbangkan bahan pembelajaran, kondisi siswa, atau peserta didik, lingkungan, sarana prasarana, dan aspek-aspek lain yang turuut mempengaruhi penggunaan media tersebut. Begitu pentingnya media dalam proses pembelajaran maka pendidik dituntut profesional dalam mengembangkan media tersebut. Pendidik harus mengetahui keunggulan dan kelemahan dari masing-masing media yang akan digunakan serta menentukan pilihan yang paling tepat sehingga peserta didik lebih aktif dan kritis dalam proses pembelajaran.
Daftar Pustaka
Asyhar, Rayandra. 2011. Kreatif Mengembangkan Media Pembelajaran. Jakarta: Gaung Persada (GP) Press Jakarta.
Sutikno, M. Sobry. dkk. 2009. Media Pembelajaran.Bandung: Prospect
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Makasih sudah berbagi dan ditunggu artikel berikutnya
BalasHapusArtikelnya sudah bagus dan membantu
BalasHapus